Gedung Penggilingan Padi Perintis, Aset Perjuangan Ketanahan Pangan Nasional -1 Deskripsi

Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis atau bangunan gedung penggilingan beras “Perintis”, tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Gedung Pabrik Tenun Perintis dan Tugu Koperasi yang berada di lokasi lahan tanah milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) beralamat di Jalan Dr. Moch. Hatta, No. 38 – 40, Kalangsari RT 003 RW 001, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pembangunan kedua gedung tersebut tidak terlepas dari hasil perjuangan masyarakat Tasikmalaya dengan melakukan pengumpulan modal guna membuka jalan dalam mengadakan penyusunan usaha berskala nasional. (Soeara Merdeka, 4 Januari 1947, hal.3).
Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, dari segi aspek fisik arsitektur yang terdiri dari a. Tata Bangunan, b. Orientasi Bangunan, c. Denah Bangunan, d. Atap Bangunan, e. Sistem Struktur Bangunan (Samsudi at al, 2020) adalah sebagai berikut:
- Tata Bangunan
Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis ditempatkan/dibangun paling Selatan di area tanah seluas + 8.730 M2 milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT). Tata ruang bangunan terdiri dari ruang utama dan ruang penunjang. Ruang utama berbentuk siku-siku huruf L, dari pintu depan sebelah Uatara memanjang ke Selatan. Pada ruang utama masih terdapat bekas mesin penggilingan padi, sedangkan ruang penunjang berbentuk persegi empat digunakan untuk ruang administrasi petugas/pegawai, ruang tunggu dalam aktivitas penggilingan padi.
Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis sejak awal dirancang untuk aktivitas produksi penggilingan padi bukan bangunan alih fungsi dari fungsi yang lain di lingkungan Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT).
- Orientasi Bangunan
Orientasi Bagungan-bangunan di lingkungan Tugu Koperasi, Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT), seperti Kantor PKKT, Gedung Pabrik Tenun Perintsi termasuk Gedung Penggilingan Padi Perintis, memiliki pintu utama menghadap Jalan Dr. Moch. Hatta yang berada di sebelah Utara komplek area tanah PKKT.
Mengingat Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis berada paling selatan komplek area tanah PKKT, pintu utama bangunan berbatasan dengan Lapang/lahan kosong dan jalan pemisah dengan bagian belakang Gedung Pabrik Tenun Perintis, sebelah Timur berbatasan dengan komplek Pemakaman Umum Batara, sebelah Selatan berbatasan dengan Tanah milik PJKA dan sungai Ciloseh, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan lahan kosong milik PKKT dapat dilihat pada Gambar 4. Peta Satelit Google Eart Lokasi Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025) dengan koordinat 7°19’11″S 108°13’21″E.

Selain bangunan-bangunan di area lahan PKKT berorientasi mengarah ke Jalan raya utama, dahulu bernama Jalan Ciamis sebagaimana pada Gambar 3. No.6 Gedung Penggilingan Padi Perintis PKKT Jalan Ciamis No. 40, Tasikmalaya (Sumber koleksi PKKT), bangunan pun menghadap Gunung Sawal terlihat pada Gambar 20. Garis merah Orientasi Bagunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), sehingga bangunan memberi pemandangan alam sejuk bagi penghuninya. Bangunan diberi perlakuan khusus pada daerah yang lebih mendapat perhatian dari lingkungan sebagai daya tarik bangunan, seperti halnya Gedung Sate dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu (Aini at al, 2024).


- Denah Bangunan
Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis PKKT memiliki Luas bangunan 371,25 M2 memiliki bentuk Denah Lantai bangunan Leter T dilihat dalam Gambar 5 Denah Lantai Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025).
Total luas tanah dan bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis dengan Panjang 19,40 M, Lebar 25,44 M, Luas 493,54 M2, sementara apabila berdasarkan rungan bangunan sebagaimana dalam keterangan Ruang 1 dan Ruang 2 dalam Denah Lantai tersebut, tidak menunjukan fungsi dari Tata ruang Bangunan, namun untuk memisahkan luasan ruang depan sebelah Utara dan Luasan ruang bangunan sebelah Selatan. Ruang 1 memiliki Panjang 12,74 M, Lebar 25,44 M dan Luas 324,10 M2, sedangkang Ruang 2 memiliki Panjang 6,66 M, Lebar 7,08 M dan Luas 47,15 M2, total luas bangunan 371,25 M2.
Adapun total luas tanah berikut lahan kosong dilingkungan bangunan sebelah Selatan bagian sisi Barat dan Timur adalah Panjang 19,40 M, Lebar 25,44 M, total Luas tanah 493,54 M2.
- Atap Bangunan
Atap bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis memiliki dua bahan atap yaitu bahan atap seng gelombang yang di cat merah dan genting tanah liat untuk bagian tengah yang memanjang ke belakang arah Selatan Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis PKKT.
Bangunan memiliki bentuk atap Pelana dengan kemiringan besar antara 450-600 dan bentuk bangunan pun berbentuk segitiga mengikuti bentukan atap. Dapat terlihat pada Gambar 7 (TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025) dan Gambar 8 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025). Rangka atap baik kuda-kuda maupun reng menggunakan kayu. Kuda-kuda menempel di atas kolom tembok dinding bangunan dapat dilihat dalam Gambar 16. Kuda-kuda dan rangka atap kayu pada kolom tembok Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025).







Ketinggian Atap tengah Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis dari lantai setinggi 8.50 M dan atap dindingnya setinggi 4.45 M dapat dilihat pada Gambar 6. Tampak Depan Sebelah Utara Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).


- Sistem Struktur Bangunan
Pondasi pada Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya terbuat dari batu, pasir dan kapur yang disusun melebihi muka tanah, sebagaimana terlihat dalam Gambar 14. Pondasi melebihi muka tanah Bagunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya 19-11-2025).



Didnding Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya memiliki ketebalan dinding berkisar 40-80 cm. Dinding tembok bangunan terbuat terbuat dari campuran bata merah, pasir dan kapur, tidak terdapat besi beton, dapat dilihat pada Gambar 14. Tampak ketebalan dinding berkisar 40-80 cm Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya 19-11-2025).
Untuk memperkokoh dinding Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis, dinding dibangun kolom-kolom tembok yang berjarak 2.95 – 3.22 M mengelilingi seluruh kontruksi bangunan selain itu menjadi ornamen pada dinding bangunan yang diberi cat putih. Ketebalan kolom tembok rata-rata 50 cm.
Selain itu terdapat kolom-kolom tembok berbentuk setengah segitiga setinggi + 3.5 M menempel pada dinding dengan alas rata-rata + 70 cm dari dinding tanah bangunan Gedung Penggilingan Padi PKKT. Di bagian belakang bangunan terdapat satu kolom setengah segi tiga dan 4 kolom setengah segitiga di bagian depan bangunan, terlihat pada Gambar 17. Kolom tembok setengah segitiga pada Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Bouvenlicht/Lubang ventilasi, bouvenlicht adalah bukaan pada bagian wajah bangunan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan kenyamanan termal (Handinoto, 1993). Pada Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis PKKT memiliki ukuran Tinggi + 2.11 M dan lebar variatif antara 2.50 – 3.20 M, Gambar 18. Bouvenlicht/Lubang ventilasi Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Pintu dan Kusen pada Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis PKKT memiliki ukuran Tinggi + 2.34 M, sedangkan ukuran lebar pintu variatif 2.11 M dan + 1.92 M. pada kusen pintu terdapat lubang ventilasi berukuran tinggi + 25 cm dengan lebar mengikuti lebar pintu tampak pada Gambar 19. Kusen dan Pintu kayu Bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025). Keseluruhan bahan dari kuda-kuda atap bangunan, kusen maupun pintunya menggunakan bahan kayu.

Dari hasil kajian aspek fisik arsitektur bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintsi milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya di atas, dapat diidentifikasi bahwa Gedung Penggilingan Padi Perintsi milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya merupakan Bangunan gaya arsitektur kolonial. Gaya arsitektur kolonial di Indonesia menurut Handinoto (2012) terbagi menjadi tiga yaitu; Indische Empire (abad 18-19), Arsitektur Transisi (1890-1915), dan arsitektur kolonial modern (1915-1940).
Karakter Arsitektur Indische Empire Style (Abad 18-19) menurut Handinoto (2006), arsitektur ini memiliki karakter konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu bata (baik kolom maupun tembok), pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai. Sementara gaya Arsitektur Transisi (1890-1915) menurut Handinoto (2012), arsitektur transisi di Indonesia berlangsung sangat singkat yaitu pada akhir abad 19 sampai awal abad 20 antara tahun 1890 sampai 1915. Peralihan dari abad 19 ke abad 20 di Hindia Belanda dipenuhi oleh perubahan dalam masyarakatnya dikarenakan modernisasi pada penemuan baru dalam bidang teknologi dan kebijakan politik pemerintah kolonial. Ciri-ciri arsitektur transisi menurut Handinoto (2012), antara lain:
- Denah masih mengikuti gaya Indische Empire, simetri penuh, pemakaian teras keliling dan menghilangkan kolom gaya Yunani pada tampaknya.
- Gevel-gevel pada arsitektur Belanda yang terletak ditepi sungai muncul kembali, penambahan kesan romantis pada tampak dan membuat menara (tower) pada pintu masuk utama, seperti yang terdapat pada banyak gereja Calvinist di Belanda.
- Bentuk atap pelana dan perisai dengan penutup genting masih banyak dipakai dan memakai konstruksi tambahan sebagai ventilasi pada atap (dormer).
Berdasarkan karakter dan salah satu ciri-ciri arsitektur tersebut di atas yang terdapat dalam kajian aspek fisik arsitektur bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis adalah sebagai berikut:
- Konstruksi atap pelana dengan penutup atap genting dan seng gelombang, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu, bata merah (baik kolom maupun tembok), pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai (karakter gaya Indische Empire).
- Denah masih mengikuti gaya Indische Empire, simetri penuh, pemakaian teras keliling dan menghilangkan kolom gaya Yunani pada tampaknya. Kolom-kolom menempel menyatu dengan dinding serta sebagai penyangga kuda-kuda kontruksi atap.
- Gevel-gevel pada arsitektur Gedung Penggilingan Padi perintis berada ti tepi Sungai Ciloseh. Terdapat kolom yang berada disanping kanan dan kiti pintu utama.
- Bentuk atap pelana dan perisai dengan penutup genting masih banyak dipakai dan memakai konstruksi tambahan sebagai ventilasi pada atap (dormer).
Oleh karena itu, langgam bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis berlanggam Indische Transisi (1890-1915).
Referensi:
- Aini, Zahra Khurulia., Sulistiani., Fauziyah, Wina, Pebrianti, Gita., Tetep. (2024). Local Wisdom Values In The Architecture Of Gedung Sate As Cultural Heritage And Education For The Young Generation. Journal Civic and Social Studies. Vol. 8, No 2, Hal 172-183 https://doi.org/10.31980/journalcss.v8i2.2176
- Edilius dan Sudarsono. (2010). Koperasi dalam teori dan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
- Falah, Miftahul. (2010) Sejarah Kota Tasikmalaya 1820-1942, Uga Tatar Sunda Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.
- Hidayati, R., (2009). Cara Pemanfaatan Bangunan Kuno dan Bersejarah sehingga Layak menjadi Bangunan Cagar Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia.
- Handinoto. (1993). Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 19. Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
- Handinoto. (2008). Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur 36 (1). Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
- Handinoto. (2012). Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Handinoto., & Hartono, Samuel (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Studi Kasus Kompleks Bangunan Militer di Jawa pada Peralihan Abad 19 ke 20). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 34. Surabaya. Universitas Kristen Petra.
- Iman, Nurul. (2012). Perkembangan Koperasi di Tasikmalaya: Alat Perjuangan Ekonomi Rakyat (1930-1947). Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
- Jukilehto, J., (2002). A History of Architectural Conservation. Oxford: Butterworth-Heinemann.
- Kamaralsyah., Djohan, Djabbarudin., Ibrahim., Ediwan., Lumunon, J.K., W.M. Marjono., Sudibyo, Suwardi, (1987). Panca Windu Gerakan Koperasi Indonesia 12 Juli 1947-12 Juli 1987. Jakarta: DEKOPIN.
- Koleksi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tasikmalaya, 2024.
- Koleksi PKKT.
- Krier, R. (1996). Komposisi Arsitektur (1 ed.). Jakarta: Erlangga.
- Mufti, Hikmah Rafika. (2009), Kebijakan Pangan Pada Masa Sebelum Orde Baru, FIB Universitas Indonesia
- Pengurus Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tasikmalaya, (2003). Sejarah Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya : BAPPEDA.
- Rudianto, Agus (2025) Sejarah Berdirinya Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) dan Sejarah Hari Koperasi 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya.
- Samsudi., W, Kumoro, Agung., P.P, Susilowati, Dyah., & Dianingrum, Anita. (2020). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda Pada Bangunan Pendopo Puri Mangkunegaran Surakarta. Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 166-174. Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret
- Sarwani, Muhrizal Dr. Ir, M.Sc. (2023). Analis Kebijakan Utama Kementan Dewan Pakar Himpunan Ilmu Tanah Indonesia dan Analis Kebijakan Utama Kementerian Pertanian. Swasembada beras dari masa ke masa, diakses pada 20 November 2025, dari https://money.kompas.com/read/2023/02/03/112247726/swasembada-beras-dari-masa-ke-masa?page=all
- Setiawan, B., (2010). Preservasi, Konservasi dan Renovasi Kawasan Kota Tua Jakarta. Humaniora, 1(2) : 699-704.
- Sulaiman, A.A., Herodian, S., Hendriadi, A. (2018). Revolusi mekanisasi pertanian Indonesia. Jakarta: IAARD Press.
- Suparwoko, (2011). Sistem Informasi Konservasi Bangunan Bersejarah Berbasis Stakeholders di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian, 6 : 76-87.
- Surtama, Momo. (2000). Sekitar Lahirnya Hari Koperasi Indonesia 12 Juli 1947 Dan Kehadiran Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Beserta Kegiatannya. Tasikmalaya : DEKOPINDA Kabupaten Tasikmalaya.
- TACB Kota Tasikmalaya, 05-06-2025
- TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025
- TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025
- Tamimi Nadhi, Fatimah Sitti Indung dan Hadi Arifin Akhmad, (2020), Tipologi Arsitektur Kolonial Di Indonesia. Jurnal p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982, Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) 2020.
- Tui, S., Nurnajamuddin, M., Sufri, M., & Nirwana, A. (2017). Determinants of Profitability and Firm Value: Evidence from Indonesian Banks. IRA- International Journal of Management & Social Sciences, 7(1), 84–95. https://doi.org/10.21013/jmss.v7.n1.p10
- Umar, S., Alihamsyah, T. Penggilingan padi. (2014). Dalam Mekanisasi Pertanian. IAARD Press.
- Wijayanti, W., (2010). Prioritas Strategi Konservasi Kawasan Kauman Surakarta Dengan Pendekatan Konsep Revitalisasi. Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
- Yahya, D. Iip. (2025). Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya 1947. Tasikmalaya: Langgam Pustaka.
Wawancara
Nama : Agus Rudianto
Usia : 54 Tahun
Tanggal Wawancara : 19 November 2025
Pekerjaan/Profesi : Ketua Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya
Surat Kabar
Berita Indonesia, 29 Djoeli 1947. Tahoen Rep. II No. 348.
Soeara Merdeka, 4 Januari 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 5 Djoeli 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947. Tahoen III.



