Sukapura Ngadaun Ngora

Yavadvipa Galunggung West Java, Indonesia

Benda Kajian Agama Masa Klasik Ritus Sejarah Agama

Lingga Yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung-1 Deskripsi

Lingga Yoni Indihiang yang berada di puncak bukit Kabuyutan, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung, secara administratif berada di Kampung Nangkerok, Kelurahan Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Secara topografis Situs Lingga Yoni Indihiang tersebut berada ditengah antara dua Gunung. Sebelah Timur Laut Gunung Sawal yang masuk administrasi Pemerintah Kabupaten Ciamis dan sebelah Barat Laut Gunung Galunggung yang termasuk Kabupaten Tasikmalaya, dapat terlihat pada Gambar 2. Foto satelit google earth 2023 Camera 54 km, lokasi Situs Lingga Yoni Indihiang dengan koordinat 7°17’40.64″S 108°11’17.08″E (atau 108°11’23,65″ BT dan 07°17’47,96″ LS) serta koordinat Balai Kota Tasikmalaya 7°18’59.13″S 108°11’48.97″E, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Jarak dari Balai Kota Tasikmalaya menuju Situs Indihiang sekitar 2,6 kilo meter (km).

Adapun peta Situs pada Gambar 3. Foto satelit google earth 2023 Camera 2,7 km, lingkungan lokasi Situs Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Situs berada pada bukit memanjang arah tenggara – baratlaut yang terdiri atas dua puncak. Puncak di sebelah tenggara disebut Bukit (Pasir) Cikabuyutan dan yang di sebelah baratlaut disebut Pasir Gadung. Di sebelah baratdaya situs terdapat aliran Ci Loseh yang merupakan anak Ci Tanduy terlihat pada Gambar 4. Peta Situs Lingga Yoni Indihiang Dokumen Balai Arkeologi Bandung (Widyastuti, 2017).

Benda budaya lingga dan yoni Indihiang berada di atas lahan tanah datar puncak Bukit (Pasir) Cikabuyutan sehingga disebut juga Situs Cikabuyutan dengan Lebar 7 M2, Panjang 7 M2, Luas 49 M2 sebagaimana yang tertuang dalam Gambar 5. Surat Keterangan Hibah pada tanggal 18 September 1995 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Di lokasi situs terdapat batu datar, menhir, batu bulat serta lingga dan yoni (Widyastuti, 2005).

Sebutan lingga yoni merujuk pada benda budaya yang memiliki dua unsur, yakni benda silinder atau bentuk lain yang ditegakkan menancap pada benda berbentuk empat persegi panjang, bujursangkar atau bentuk lain. Benda lingga yoni dengan ciri tersebut dengan mudah dapat ditemukan di situs candi di Jawa maupun bangunan pura di Bali. (Sunoto, 2017). Bagian ciri-ciri dari bentuk lingga yoni: lingganya terdiri dari tri bagha, Bràhmabhaga berbentuk segi empat, Wisnubhaga berbentuk oktagonal dan Siwabhagha berbentuk bulatan, sedangkan yoni berbentuk segi empat (Rema dan Sunarya, 2015), sementara bagian yoni yang lengkap menurut Rita Istari adalah adanya nala (cerat), jagati (ruang), kantha (leher), padma (alas) dan lubang untuk berdirinya lingga atau arca (Rita Istari dalam Widyastuti, 2005: 71). Lingga berdiri tepat berada pada bagian tengah lubang yoni.

Adapun bahan, warna, bentuk, ukuran dan makna simbol lingga yoni Indihiang Kota Tasikmalaya adalah sebagai berikut:

A. Lingga

Bahan lingga terbuat dari batu andesit, warna hitam alami dengan ukuran bagian bràhmabhaga berbentuk bujursangkar yang dimasukan pada lubang yoni sebagaimana dalam Gambar 7. Foto ukuran Lebar Panjang 19 cm untuk brahmabhaga, dan Lebar Panjang sekitar 21 cm untuk lubang atas yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

Bagian Wisnubhaga: berbentuk oktagonal (persegi delapan sama sisi) sebagaimana pada Gambar 8. Foto ukuran wisnubhaga Indihiang dengan lebar sama sisi sekitar 8 cm, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026), Tinggi wisnubhaga sekitar 5 cm.

Sedangkan bagian paling atas siwabhagha berbentuk silinder yang pada Gambar 9. Foto ukuran Tinggi siwabhaga 21 cm, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Total tinggi lingga 45 cm terlihat pada Gambar 10. Tampak kiri foto lingga (alas brhamabhaga dan sudut kanan tampak korosi), dan gambar sebelah kanan sketsa ukuran profil lingga Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

B. Yoni

Yoni terbuat dari batuan sedimen. Permukaan batu kasar. Kondisi yoni tidak ada cerat akibat korosi sebagaimana pada Gambar 11. Tampak kiri foto yoni Indihiang tanpa cerat, dan gambar sebelah kanan sketsa yoni Indihiang tanpa cerat akibat korosi atau pelapukan alam, Sketsa TPCB Kota Tasikmalaya, 06-05-2026, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Bagian badan batu yoni terdapat pelipit. Pelipit tersebut dibuat secara simetris antara bagian atas (jagati) dan bagian bawah (padma), yaitu pelipit lebar dan pelipit tipis yang diselingi dengan sisi genta. Pada bagian tengah (kantha) terdapat panil polos (Widyastuti, 2012: 35).

Dampak dari korosi tersebut sebagaimana dalam Gambar 11 tersebut di atas, bukan hanya hilangnya cerat, tetapi ukuran lebar dan panjang antara bagian atas jagati dan bagian bawah padma tidak sama, jagati (atas) dengan ukuran lebar 46 cm x panjang 43 cm, tinggi 18 cm, kantha (tengah) lebar sama sisi 38 cm, tinggi 20 cm dan padma (bawah) lebar sama sisi 56 cm, tinggi 17 cm. Dari bagian-bangian yoni tersebut dapat dilihat pada Gambar 11-1. Foto Yoni Indihiang tampak ukuran tinggi A. Jagati 18 cm, B. Kantha 20 cm, C. Padma 17 cm, total 55 cm Tinggi Yoni, Foto TPCB Kota Tasikmalaya, 06-05-2026, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).   

Berbeda dengan halnya yoni yang memiliki cerat dan memiliki ukuran lebar panjang jagati dan padma sama, seperti pada Gambar 12. Tampak depan dan samping yoni nomor Inventaris E.27 Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berukuran lebar 58 cm, panjang 58 cm (Portal Resmi DIY, 2026), sedangkan yoni tanpa cerat namun jagati dan padma sama, seperti pada Gambar 13. Foto yoni masih terlihat bekas ceratnya pada yoni nomor inventarisasi: 04.896, Museum Negeri Sri Baduga Provinsi Jawa Barat (Protal Kemendikbud, 2026). Apabila yoni Indihiang memakai cerat, dapat dilihat pada Gambar 14. Foto kiri lingga yoni, dan sebelah kanan sketsa ilustrasi lingga yoni Indihiang ada cerat, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

Ukuran lebar panjang sisi dari padma yang memiliki total ketinggian 17 cm terdapat ukuran lebar panjang bervariasi sesuai trap/umpakan padma, sebagaimana pada Gambar 15. Foto ukuran pada terap P1 = 56 cm, P2 = 52 cm, P3 = 48 cm, P4 = 42 cm, P5 = 40 cm dan P6 = 38 cm. Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Pada bagian tengah yoni (kantha) tinggi 20 cm, yang memiliki ukuran lebar sama sisi 38 cm x 38 cm sebagaimana pada P6 = 38 cm di atas, terdapat panil polos (Widyastuti, 2012: 35) yang berukuran lebar 18 cm, panjang/tinggi panil 10 cm. selengkapnya dapat dilihat dalam Gambar 16. Sketsa ukuran profil badan yoni Indihiang dengan asumsi ukuran lebar x panjang padma dan jagati utuh (sama), Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

Terakhir adalah bagian lubang yoni, dimana lubang yoni memiliki dua buah lubang. Pertama lubang yoni atas (L1) dan lubang yoni bawah (L2). Ukuran tinggi atau kedalam lubang atas (L1) setinggi 19 cm, lebar sama sisi sekitar 21 cm. Kedua lubang bagian bawah (L2) memiliki ketinggian atau kedalaman 10 cm, dan memiliki lebar sama sisi 10 cm, sebagaimana dalam Gambar 17. Foto kiri L1, L2 dan L3. Sketsa ukuran Lebar, Tinggi lubang yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026). Ketika lingga ditancapkan kedalam lubang yoni, maka akan menyisakan ruang kosong didalam badan yoni dibawah Bràhmabhaga dengan Lebar 10 cm, Panjang 10 cm, Tinggi 10 cm (L2).

C. Makna Simbol Lingga Yoni Indihiang

Lingga yoni oleh masyarakat Jawa-Hindu dimaknai sebagai simbolisasi dari Sang Hyang Widhi yang bermanifestasi sebagai Siwa-Sakti, leluhur, dan Dhanyang, dengan begitu mereka dapat merasa dekat dengan-Nya dan selalu berhubungan melalui jalan meditasi atau bersamadhi (Wibowo, 2016). Lalu bagaimana menurut masyarakat Sunda (Jawa bagian Barat /Kulon) mengenai keberadaan lingga yoni dan arca yang tersebar di wilayah Jawa Barat, khusunya lingga yoni Indihiang Kota Tasikmalaya?.

Lingga berasal dari bahasa sansekerta dalam Kamus jawa kuno – Indonesia/ P.J. Zoetmulder, S.O. Robson (1994) yang berarti tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti, keterangan, petunjuk, lambang kemaluan laki-laki terutama lingga Siwa dalam bentuk tiang batu, Patung Dewa, titik tuju pemujaan, titik pusat, pusat, poros, sumbu. Sedangkan yoni berasal dari bahasa sansekerta berarti rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara dan ayonia (Suhardi, 2019).

Suhardi (2019) dalam membaca Kitab Lingga Purana dan Siwaratri Kalpa karya Mpu Tanakung ini semakin memperkuat kenyataan bahwa pada mulanya pemujaan terhadap lingga pada hakekatnya merupakan pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Siwa. Selanjutnya, lingga dalam Atharwa Weda X.2.25 disebutkan bahwa. Brahman menempatkan langit ini di atasnya. Brahman menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas (Griffith, R.T.H dalam Suhardi, 2019). Berdasarkan mantram ini bahwa bangunan suci yang terdapat arca lingga yoni yang dipuja oleh umat Hindu tidak ditemukan satu katapun, termasuk bila ditafsirkan dari segi Heurmenetika, yang menyatakan Lingga Yoni sebagai simbol ketelanjangan, atau alat kelamin laki-laki atau perempuan (Suhardi, 2019).

Berikutnya Suhardi pun mengutip pendapat Nair (2009: 73) mengatakan bahwa “The Siva lingam represent lord Siva, the mahayogi, the Sarveshvara, the supreme power that has no begining and end. It is also symbol of para brahman”. Hal senada juga diungkapkan bahwa lingga merupakan simbol energi generatif. Menyebut ini sebagai “phallic worship” (pemujaan palus) adalah salah secara total memahami representasi secara miniatur atau bentuk simbolik, menciptakan dan melepaskan kekuatan dengan mana dia diasosiasikan (Nair,2009 dalam Suhardi, 2019).

Dari uraian lingga yoni tersebut di atas, maka lingga yoni Indihiang dibuat dan ditegakkan keberadaannya di Bukit Kabuyutan Indihiang oleh Orangtua (Leluhur), berfungsi sebagai pertanda, pengingat bagi masyarakat pada masanya dan dapat berguna bagi generasi berikutnya bahwa di tempat tersebut telah hadir ajaran tentang ke-Esaan Tuhan (simbol lingga) yang telah menjadikan kehidupan dimuka bumi (yoni) dan alam sekitarnya.

Umar (2019) menjelaskan, meskipun disebut tiga nama (Trimurti: Brahma yang dikenal sebagai Sang Pencipta, Wisnu sebagai Sang Pelindung atau Pemelihara, dan Syiwa sebagai Sang Penghancur atau Pelebur), Tuhan di dalam agama Hindu diyakini tetap Esa, yang di dalam kitab Upanisad disebut: Ekam evam adwityam Brahma (Hanya satu Tuhan, tidak ada yang kedua). Tuhan Yang Maha Esa itu disebut berbagai nama atau abhiseka. Tuhan dalam agama Hindu disebut dengan ribuan nama. Brahma Sahasranama (seribu nama Brahma), Wisnu Sahasranama (seribu nama Wisnu), Siwa Sahasranama (seribu nama Siwa), dan sebagainya. Satu wujud yang memiliki banyak nama mengingatkan kita pada konsep al-Asma al-Husna dalam agama Islam.

Lingga yoni Indihiang sebagai pengingat agar sadar diri, petunjuk untuk mengenal asal usul diri sebagai manusia yang terlahir dari seorang laki-laki/ayah (lingga) dan perempuan/ibu (yoni/rahim). Kesadaran ini dapat membentuk pribadi yang berbudi pekerti luhur, beradab, hormat dan berbakti kepada kedua orangtua. Petunjuk, penanda yang serupa dalam ajaran agama Islam bahwa manusia berasal dari seorang laki-laki (lingga) dan perempuan (yoni), terdapat dalam Kitab suci al-Quran, artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (Quran Kemenag, 2022. al-Hujurat:13).

Kesadaran budi perkerti tersebut di atas adalah modal dasar untuk pendalaman mengenal diri dengan memahami kode Leluhur (Ancient Code) yang tertuang dalam bentuk profil lingga yoni Indihiang sebagai perwujudan dari tubuh (raga) manusia. Senada dengan Munandar (2010) dalam tulisannya berjudul “Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Budha dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad ke-14-16)”, Naskah Serat Dewabuda (SDB) atau dengan nama lain Serat Sewakadarma, menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditafsirkan bahwa, (1) Sang Hyang Taya adalah kekuatan adikodrati tertinggi yang diseru dalam SDB, (2) Sang Hyang Taya sebenarnya terdapat di dalam setiap diri manusia apabila ia menyadarinya dan juga hadir diseluruh dunia, (3) Sang Hyang Taya harus menjadi tujuan (acuan) bagi semua makhluk, (4) Lingga dan arca dewa-dewa adalah wujud yang semu belaka, bagai raga yang tampil dalam mimpi.

Untuk mendudukan makna lingga yoni Indihiang dalam bentuk tubuh (raga) manusia secara garis besar terdapat makna ruang bagian luar (outer space) dan makna ruang bagian dalam (both inner) sebagaimana dalam bentuk lingga yoni terdapat bujusangkar luar (yoni) dan bujursangkar bagian dalam (brahmabhaga) serta ruang bujursangkar kosong.

Adapun bagian ruang-ruang tersebut dipetakan dalam 5 bagian sebagaimana dalam Gambar 18. Sketsa lingga yoni Indihiang dipadukan dengan sketsa tubuh (raga) manusia sedang duduk sila /melipat kedua kaki secara menyilang (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

  • Bagian nomor 1:

Bentuk bulat memanjang pada bagian lingga yang disebut siwabhâga menunjukan bagian kepala dari manusia (bulat). Penempatan bagian siwabhaga adalah kepala yang merupakan adanya perintah untuk konsentrasi pikiran. Masyarakat Bali yang sampai hari ini melanjutkan tradisi Hinduisme memaknai lingga sebagai simbol kekuatan kemakmuran, tanda penciptaan, dan penyebab konsentrasi pikiran (Rema dan Sunarya 2015: 86). Selain itu, wilayah kepala manusia terdapat ukiran muka seperti mata, telinga, hidung, mulut, hal ini didukung dengan adanya prosesi dalam pujabhaga (pembuatan lingga) terdapat Mukhalingga, sebagaimana dalam Gambar 19. Perbandingan Mukhalingga di Nanga Sepauk dan Kamboja (Hindarto, 2019: 9).

  • Bagian nomor 2:

Bagian wisnubhaga berbentuk oktagonal (delapan sudut sama sisi) mengarah pada bagian leher sampai badan manusia (berbentuk bujursangkar). Wisnu yang merupakan Sang Pemelihara kehidupan setelahnya wujud lahir manusia dari proses pencipataan oleh Brahma (brahmabhaga), dapat dimaknai, asupan udara, minuman dan makanan yang dibutuhkan badan manusia, masuk melalui leher yang terhubung dengan mulut dan hidung wilayah siwabhaga. Kedudukan leher (wisnubhaga) didalam ajaran Islam sangat tinggi, dalam al-Qura’an difrmankan: “..,Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Quran Kemenag, 2022. Qaf: 16).

  • Bagian nomor 3:

Yoni bagian tengah (kantha) terdapat panil polos (Widyastuti, 2012: 35). Panil polos yang memiliki garis ukuran lebar 18 cm, tinggi/panjang 10 cm. Apabila dilihat bagian dalam lubang yoni, maka panil polos ini sejajar dengan lubang yoni paling bawah berbentuk kubus dengan sisi 10 cm dan tinggi 10 cm. Panil polos mengingatkan manusia, bahwa didalam tubuh manusia bagian tengah terdapat ruang kosong setinggi 10 cm di atas pusar perut dan di bawah dada, disebut wilayah hati atau al-Qalbu dalam bahasa Arab.

  • Bagian nomor 4:

Padma yoni mengarah pada kaki alas duduk dan berdiri manusia di atas bumi. Di atas alas duduk terdapat lipatan (pelipit) berumpak sebagai trap atau tahapan manusia menuju pencapaian suwung (ruang kosong) panil polos pada kantha (bagian tengah) badan.

  • Bagian nomor 5:

Adalah Atma (Atman) atau Pancer, esensi yang harus difahami dalam makna simbol lingga yoni (raga) yang tidak nampak yaitu kesadaran (awareness) yang kuasa untuk menggerakan, mengatur penglihatan melalui mata, pendengaran melalui telinga, pengucapan melalui mulut, mengubah melalui tangan, melangkah melalui kaki maupun mengendalikan fikiran yang ada di wilayah kepala (siwabhaga). Menurut Arniati dalam membaca Kitab suci Siwa Tattwa, menjelaskan, Cetana atau unsur kesadaran terdiri dari tiga jenis yaitu Paramasiwa Tattwa, Sadasiwa Tattwa, dan Siwatma Tattwa disebut juga Cetana Telu (tiga tingkat kesadaran). Ketiganya tidak lain adalah Sang Hyang Widhi sendiri yang sudah berbeda tingkat kesadarannya (Arniati, 2016).

Manaf dalam membaca Upanisad, menerangkan “Atman adalah Brahman, artinya bahwa Tuhan manifestasi dalam jiwa setiap individu. Ini memberikan kesatuan jiwa dengan Tuhan, dan sesungguhnya itu adalah ekspresi ungkapan keesaannya. Dengan kata lain setiap makhluk memiliki Atmannya sendiri yang menyebakan makluk itu sadar akan “aku” nya: kemudian semakin jelas bahwa Upanishad mengajarkan monisme yang idealistis, bahwa segala sesuatu dapat dikembalikan kepada satu asas. Asas yang satu ini adalah Brahman dan Atman. Brahman adalah asas alam semesta, dan Atman adalah asas manusia.” (Manaf, 1996: 17). Pada intinya secara esensial, dalam konteks agama maupun darsana, terdapat sebuah landasan bahwasannya didalam diri manusia terdapat asas yang sifatnya abadi dalam diri manusia, yaitu atman. Atman sebagai asas roh dan badan sebagai asas materi (Krishna, 2022: 5). Roh atau ar-Ruh dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman: Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud (Quran Kemenag, 2022. Shad:72).

Salah satu sifat Atman didalam Bhagawad Gita digambarkan sebagai berikut: Acchedya artinya tidak terlukai oleh senjata. Adahya artinya tidak dapat terbakar. Sarwagatah artinya ada dimana-mana. Awyakta artinya tidak terlahirkan. Achintya artinya tidak terpikirkan (Krishna, 2022: 5-6). Sekalipun tidak terpikirkan bentuk, warna dari Atman (roh) dalam diri manusia, namun Atman merupakan asas inti dari setiap kehidupan sehingga harus dipahami keberadaannya (Krishna, 2022: 5) terutama Atman (roh) yang berada dalam diri manusia. Berdasarkan sifat Atman (roh) tersebut apabila divisualisasikan dalam bentuk lingga yoni Indihiang, maka Atman berpusat pada lubang yoni paling bawah, ruang kosong berukuran lebar sama sisi 10 cm dan tinggi 10 cm yang disebut wilayah hati atau al-Qalbu dalam bahasa Arab sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bagian nomor 3 di atas.

Kedudukan hati (qalbu) dalam ajaran Islam menurut Ritonga menyimpulkan bahwa Allah hanya bisa dilihat di dunia dengan  pandangan  hati  atau  lewat  mimpi  sesuai  dengan  kapasitas  keimanan dan keyakinannya kepada Allah (Ritonga, 2021). Oleh karena itu bagi diri manusia yang hendak memahami mengenal Allah/Ma’rifatullah (Islam), menuju Brahman (Weda), mengenal Hyang (Sunda Kuna) agar mengendalikan pikirannya (wilayah kepala) kedalam hatinya sendiri sebagai pusat hyang (h kecil), Atman atau ar-Ruh. Mengarahkan pikiran wilayah kepala (siwabhaga) untuk diarahkan ke bawah (kedalam hati), ditegaskan dalam bentuk simbol garis hias geometris lingga payung, sebagaimana dalam Gambar 20. Foto garis hias geometris pada lingga payung di Gunung Payung, Desa Sirnajaya, Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Foto Agus Wirabudiman, 2014 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026).

Referensi:

  • Al Jazeera, (2023, 06 September). India or Bharat: What’s behind the dispute over the country’s name?. Retrieved April 27, 2026, from https://www.aljazeera.com/news/2023/9/6/india-or-bharat-whats-behind-the-dispute-over-the-countrys-name
  • Arniati, Komang, Ayu, Ida (2016). Hakekat Manusia Persfektif Siwatattwa. ISSN: 0852-7776, Oct-2016. UNHI Press.
  • Atja. (1968). Carita Parahyangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ke-16 Masehi. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusa Larang.
  • Basham, Arthur Llewellyn, Smith, Brian K., Gold, Ann G., Buitenen, J.A.B. van, Dimock, Edward C., Narayanan, Vasudha, Doniger, Wendy. (2026, 27 February). “Hinduism”. Encyclopedia Britannica, Retrieved April 27, 2026, from https://www.britannica.com/topic/Hinduism
  • Danasasmita, Saleh., Ayatrohaedi., Wartini, Tien., & Darsa, Ahmad, Undang. (1987). Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632). Transkripsi dan Terjemahan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktirat Jendral Kabudayaan Dep Pendidikan Dan Kebudayaan Bandung Tahun 1987.
  • Darsa, Ahmad. Undang (2014). Konsepsi Dan Eksistensi Gunung Berdasarkan Tradisi Naskah Sunda (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014
  • Hastings, James., Selbie, A. John, & Gray, H. Louis (1919). Encyclopaedia Of Religion and Ethics Volume VI. Cetakan 2, 1919. Printed In Great Britain By Morrison and Gibe Limited. Retrieved April 27, 2026, from https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.462323/mode/2up
  • Hindarto, Imam (2019). Analisis Struktural Pada Mukhalingga Di Nanga Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Naditira Widya, 13(1) April 2019. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
  • Krishna, Wika, Bagus, Ida. (2022). Darsana. Cetakan Pertama, Juni 2022. Penerbit: Mpu Kuturan Press.
  • Krom, N. J. (1915). Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië 1914: Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R. D. M. Verbeek’s Oudheden van Java (Eerste Deel). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 1915, p.73.
  • Manaf, Abdul, Mujahid. (1996). Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
  • Masudi, Idris (2020). Islam Dibawa Masuk oleh Orang Nusantara: Dari Data Terserak Buzurgh Al-Ramahurmuzi, ‘Ajaibul Hind: Kisah-Kisah Ajaib di Daratan dan Lautan Hindi. lslam Nusantara, Journal for Study of Islamic History and Culture, I (I), July 2020. Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta
  • Mookherji, Bimal, Sudhansu (1963). Indo-Indonesian Relation. The Modern Review by Ramananda Chatterjee, CXIII(1 To 6)-101, January To June 1963. Calcuta, India. Retrieved April 27, 2026, from https://archive.org/details/dli.bengal.10689.16872
  • Munandar, A. A. (2010). Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Budha dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad ke-14-16). Jurnal Manuskrip Nusantara, 1(1) 2010. Perpustakaan Nasional. Retrieved April 27, 2026, from: https://ejournal.perpusnas.go.id/jm/article/view/00100120102
  • P.J. Zoetmulder, S.O. Robson. (1994). Kamus jawa kuno – Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, 601, 1494. https://online.fliphtml5.com/cwzns/cbot/#google_vignette
  • Pandey, Kumar, Sushil (2025). The Evolution of Ancient Indian Civilization A Study of Vedic Culture and Its Global Impact. International Journal of Advanced Research in Humanities and Law (IJREL), 2(1): 40-46, 2025
  • Portal Resmi DIY, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, (2026). Yoni Nomor Inventaris E.27. Retrieved April 27, 2026, from https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/36/yoni
  • Portal Resmi Kemendikbud, Museum Negeri Provinsi Jawa Barat Sri Baduga. Yoni Nomor Iinventarisasi: 04.896. Retrieved April 27, 2026, from https://museum.kemenbud.go.id/koleksi/profile/yoni_53457
  • Purwanta, Hieronymus. (2025, 10 Oktober). Mengulik Salah Kaprah Penggunaan Istilah ‘Hindu’. Retrieved April 27, 2026, from https://sejarah.fkip.uns.ac.id/2025/10/10/mengulik-salah-kaprah-penggunaan-istilah-hindu/
  • Rema, Nyoam dan Sunarya, Nyoman. (2015). Lingga Berhias Padma Astadala, Forum Arkeologi, 28(2), Agustus 2015 (79-88). Balai Arkeologi Denpasar.
  • Ritonga, Tohir, M. (2021). Melihat Allah Ta’ala. Al-Kaffah, 9(2) Juli-Desember 2021: 289-298. Retrieved April 27, 2026, from https://jurnalalkaffah.or.id/index.php/alkaffah/article/view/22/17
  • Sinaga, Edison & Subiyanto, Edi, Ahmad (2023). Penetapan Cagar Budaya Ditinjau Dari Perspektif Kepastian Hukum Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umum. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) Vol. 4 No 4, 2023 |pp: 5040-5045.
  • Suhardi, Untung. (2019). Eksistensi Lingga Sebagai Media Pemujaan Hindu Di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan – Jawa Tengah (Sebuah Tinjauan Perspektif Sejarah). Jurnal Agama Hindu, 24(1) Maret 2019, 40-49. Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta.
  • Sunoto, S. (2017). Lingga Yoni Jejak Peradaban Masyarakat (Jawa, Bali) dari Perspektif Positivistik. Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya, 45(2), Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Kegeri Malang.
  • Surpi, Kadek, Ni (2020). Konsep Monoteisme Dalam Ṛgveda (Kajian Konsep Ketuhanan Hindu Perspektif Vedic Hermeneutic). VIDYA DARŚAN, Jurnal Filsafat Hindu, 2(1) November 2020. Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
  • Suryanto, Agung dan Permana, Sukma Angga. (2025). Lingga Bergema: Reinterpretasi simbolisme lingga. Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 23(1), pp. 44-52, 26 April 2025, Universitas Negeri Yogyakarta
  • Syahputra, El-Adzim, Afrizal (2018). Sufisme Dalam Hindu Dan Islam. Spiritualis, 4(1) 14-27, Maret 2018. STIT Sunan Giri Trenggalek
  • Thapar, Romila. (1992). “Society and Historical Consciouness: The Itihasa-Purana Tradition.” In: Interpreting Early India. Delhi; New York: Oxford University Press. Retrieved April 27, 2026, from https://dokumen.pub/qdownload/interpreting-early-india-9780195633429-0195633423.html
  • Thapar, Romila. (2002). The Penguin History of Early India From The Origins To AD 1300. Penguin Group, Penguin Press 2002. Retrieved April 27, 2026, from https://archive-org.translate.goog/details/romila-thapar-history-of-early-india-from-the-origins-to-ad-1300?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
  • Ulum, Babul, Muhammad (2021, 24 Januari). Sri Baduga Maharaja, Sahabat Nabi Muhammad dari Nusantara?. Retrieved April 27, 2026, from https://khazanah.republika.co.id/berita/qnf4l9385/sri-baduga-maharaja-sahabat-nabi-muhammad-dari-nusantara
  • Umar, Nasarudin. (2019, 11 Januari). Konsep Keesaan Tuhan Perspektif Agama Hindu. Dialog Jumat Koran Kompas. Retrieved April 27, 2026, from https://uinjkt.ac.id/id/konsep-keesaan-tuhan-perspektif-agama-hindu
  • Wibowo, Ari Bayu. (2016). Pemaknaan Lingga-Yoni Dalam Masyarakat Jawa-Hindu Di Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur: Studi Etnoarkeologi. E-Jurnal Humanis, 14.1 Januari 2016: 9-16, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana.
  • Widyastuti, Endang (2005). Ikonografi Masa Hindu-Budha di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
  • Widyastuti, Endang (2012). Bangunan Suci di Situs Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam H. O. Untoro, Arkeologi Ruang: Lintas Waktu Sejak Prasejarah Hingga Kolonial di Situs-situs Jawa Barat dan Lampung (hal. 31 – 42). Bandung: Alqaprint.
  • Widyastuti, Endang (2013). Bangunan Suci dan Lingkungannya di Situs Indihiang Kota Tasikmalaya. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
  • Widyastuti, Endang (2017). Arsitektur Bangunan Suci Di Situs Indihiang KotaTasikmalaya. Purbawidya (Jurnal penelitian dan pengembangan arkeologi), 6(1), 23. Bandung: Balai Arkeologi Jawa Barat.
    • Al-Qur’an dan Terjemah Kementrian Agama RI (2022):
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Baqarah ayat 136. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=136&to=286
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Baqarah ayat 148. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=148&to=286
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah An-Nisa ayat 164. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/4?from=164&to=164
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Maidah ayat 48. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/5?from=48&to=120
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Yunus ayat 87. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/10?from=87&to=109
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Ibrahim ayat 4. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/14?from=4&to=52
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Anbiya ayat 107. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/21?from=107&to=112
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah An-Naml ayat 91. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/27?from=91&to=93
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Shad ayat 72. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/38?from=72&to=88
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Ghafir ayat 78. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/40?from=78&to=85
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Asy-Syura ayat 7. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/42?from=7&to=53
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah al-Hujurat ayat 13. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/49?from=13&to=13
  • Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Qaf ayat 16. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/50?from=16&to=45

Wawancara
Nama : Suhendi
Usia : 69 Tahun, Wafat: 07 Maret 2022 dalam Usia 79 Tahun.
Tanggal Wawancara : 16 Desember 2012
Pekerjaan/Profesi : Purnawirawan ABRI/POLRI (Pemilik asal Situs Indihiang).

1 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *