Puspalingga dan Janggan
Oleh Agus Wirabudiman, 13 Juni 2026
Secara morfologis sebutan Puspalingga terdiri dari frasa Puspa dan Lingga.
Puspa dalam bahasa Sangsekerta artinya Bunga (simbol keindahan, keanggunan, dan kehidupan yang terus mekar), sedangkan Lingga artinya Penanda.
Baca juga: Lingga Yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung-1 Deskripsi https://sukapura.or.id/2026/06/04/lingga-yoni-indihiang-di-tempat-suci-kabuyutan-galunggung-1-deskripsi/ dan Lingga Yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung-2 Sejarah: https://sukapura.or.id/2026/06/04/lingga-yoni-indihiang-di-tempat-suci-kabuyutan-galunggung-2-sejarah/
Sebutan Puspalingga tertuang dalam Naskah Sunda Kuno Sewakadarma atau Serat Dewa Buda (Gunung) yang merupakan visualisasi dari raga (tubuh manusia), sebagaimana yang di terangkan Munandar (2010) dalam tulisannya berjudul “Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Budha dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad ke-14-16)”, Naskah Serat Dewabuda (SDB) atau dengan nama lain Serat Sewakadarma, menyatakan bahwa prana adalah indra, adalah kehidupan adalah tujuan (acuan), dan acuan hidup itu ialah Hyang (Sang Hyang Taya). Dalam lingkungan seluruh dunia selalu terdapat Hyang sebagai acuan. Dewa-dewa Hindu dan Buddha dinyatakan hanyalah visualisasi dari tubuh (raga) dalam mimpi, jadi semu agar menjadi konkret kemudian “ditempatkan dalam puspalingga dan arca”. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditafsirkan bahwa, (1) Sang Hyang Taya adalah kekuatan adikodrati tertinggi yang diseru dalam SDB, (2) Sang Hyang Taya sebenarnya terdapat di dalam setiap diri manusia apabila ia menyadarinya dan juga hadir diseluruh dunia, (3) Sang Hyang Taya harus menjadi tujuan (acuan) bagi semua makhluk, (4) Lingga dan arca dewa-dewa adalah wujud yang semu belaka, bagai raga yang tampil dalam mimpi.
Sedangkan Janggan merupakan Tokoh yang menguasai pengetahuan tentang tatacara melakukan ritual keagamaan Sunda Kuna termasuk mengenai nyampingan Lingga, sebagaimana yang tertuang dalam Naskah Sunda Kuna (NSK) Koropak 630, Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) menyebutkan:
(//–Hayang nyaho di puja di sanggar ma: patah puja daun, gelar palayang, puja kembang. nya(m)pingan LINGGA , ngomean sanghyang, sing sawatek muja ma ja(ng)gan tanya. //*).
Artinya: (//–Bila ingin tahu tentang puja dan sanggar, seperti: patah puja daun, gelar palayang, puja kembang, nya(m)pingan LINGGA , ngomean sanghyang; segala macam hal mengenai memuja, tanyalah JANGGAN .–//).(Danasasmita at al, 1987).
Lihat juga Album pribadi Ragam Hias Lingga Yoni, pada Link Facebook https://www.facebook.com/photo/?fbid=10156390590914304&set=a.10155593739269304



Referensi:
- Danasasmita, Saleh., Ayatrohaedi., Wartini, Tien., & Darsa, Ahmad, Undang. (1987). Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632). Transkripsi dan Terjemahan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktirat Jendral Kabudayaan Dep Pendidikan Dan Kebudayaan Bandung Tahun 1987.
- Munandar, A. A. (2010). Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Budha dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad ke-14-16). Jurnal Manuskrip Nusantara, 1(1) 2010. Perpustakaan Nasional. Retrieved April 27, 2026, from: https://ejournal.perpusnas.go.id/jm/article/view/00100120102




