BELAJAR ARKEOLOGI AL-QUR’AN

01. Apa itu Arkeologi?
Oleh Dr. Ali Akbar
ARKEOLOGI adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang dalam bahasa lain misalnya ditulis archaeology atau archeology. Dalam beberapa kamus, archaeo berarti kuno, dan logy berarti sains atau ilmu. Para ahli menelusuri bahwa arkeologi adalah salah satu ilmu pengetahuan yang telah berkembang cukup lama dan asal usulnya terlacak sejak sekitar awal abad ke-17 Masehi. Mungkin juga bila ditelusuri lagi akan jauh lebih lama lagi.
Sesuai dengan namanya, ilmu ini identik dengan masa lalu. Sehingga, ilmu ini seringkali dikaitkan dengan kata sejenis seperti tua, lampau, dan purbakala. Lalu apa yang dipelajari dari masa lalu? Apa pun yang terjadi pada masa lalu! Secara khusus, arkeologi adalah ilmu yang mempelajari apa yang dipikirkan, dilakukan, dan dihasilkan oleh masyarakat masa lalu.
Untuk mengetahui hal tersebut di atas, tentu tidak mudah dan harus melalui serangkaian upaya ilmiah. Secara keilmuan, arkeologi membutuhkan peninggalan yang masih tersisa untuk merekonstruksi pemikiran, perilaku, dan apa yang telah diperbuat oleh masyarakat masa lalu. Secara akademis, ilmu ini telah lama diajarkan di perguruan tinggi baik untuk tingkat sarjana, magister, maupun doktor.
Peninggalan masa lalu dalam arkeologi disebut objek atau data arkeologi. Secara umum menurut para ahli arkeologi yang kemudian juga disarikan oleh Akbar (2009), terdapat 5 kategori data arkeologi:
1. Artefak, yaitu hasil karya atau buatan manusia yang sifatnya dapat dipindah-pindahkan, misalnya cincin, kapak batu, gerabah, buku, piring, perahu.
2. Fitur, yaitu hasil karya atau buatan manusia yang sifatnya tidak dapat dipindah-pindahkan kecuali dengan cara merusak tempat kedudukannya, misalnya jalan raya, rumah, jembatan, bangunan suci, dermaga, bendungan, perahu karam.
3. Ekofak, yaitu sesuatu yang bersifat alamiah namun diberi makna atau arti tertentu oleh manusia dan berperan dalam kehidupan manusia, misalnya hutan keramat, gunung suci, laut, hewan, tumbuhan, fosil.
4. Situs, yaitu lokasi atau tempat yang terdapat salah satu atau kombinasi artefak, fitur, ekofak, misalnya lokasi bangunan suci, lokasi bendungan, lokasi ditemukannya buku.
5. Kawasan, yaitu dua situs atau lebih yang saling berdekatan atau berkaitan, misalnya dermagadermaga di satu pulau, kota-kota yang dibangun oleh satu tokoh, bangunan-bangunan dari periode yang sama.
Sebagai ilmu pengetahuan, maka arkeologi memiliki metode ilmiah. Cukup banyak buku mengenai metode arkeologi yang kurang lebih berdasarkan buku-buku tersebut dapat diringkas menjadi tiga tahap, yakni: pengumpulan, pengolahan, dan penafsiran data. Pada tahap pengumpulan data, misalnya dilakukan studi literatur atau kajian pustaka, survei ke lapangan atau kunjungan situs, dan ekskavasi atau penggalian arkeologi. Pada saat pengolahan, maka data yang telah diperoleh kemudian dianalisis atau diurai sampai satuan terkecil misalnya bentuknya, keletakannya, usianya bai k dengan menggunakan pengamatan biasa maupun analisis laboratorium. Pada saat penafsiran, seringkali digunakan konsep atau teori tertentu sebagai dasar untuk menghasilkan kesimpulan (Akbar, 2012).
Seberapa tua untuk dapat disebut sebagai objek penelitian arkeologi? Tidak ada batasan usia! Para perkembangan terkini, arkeologi merupakan studi mengenai kebudayaan materi (material culture). Dengan demikian, objek penelitian harus merupakan bukti fisik yang dapat berasal dari berbagai kurun waktu. Sehingga, ada ahli arkeologi yang meneliti bukti-bukti dari sekitar 3 juta tahun yang lalu atau pada masa prasejarah, ada yang meneliti saat kerajaan-kerajaan kuno seperti periode Mesir Kuno, ada yang meneliti saat kolonialisme oleh bangsa Eropa di sekitar abad ke-16 Masehi, ada yang meneliti saat negara-negara terbentuk setelah era penjajahan, dan lain sebagainya.
Apa tujuan mempelajari arkeologi? Tujuan arkeologi adalah untuk mengetahui kejadian di masa lalu. Secara lebih khusus, menurut arkeolog Ken R. Dark dalam bukunya yang berjudul Theoretical Archaeology (1995: 32-34), tujuan arkeologi antara lain adalah untuk mengetahui identitas masa lalu dari suatu bangsa atau wi layah, mengetahui keragaman manus i a dan pengalamannya masing-masing di masa lalu, mengetahui interaksi manusia dengan lingkungan alam dari masa ke masa dan upaya konservasinya, dan mencari pengetahuan untuk kepentingan masa kini dan masa depan atau mengutip kalimat Dark yaitu “A long-term perspective on the present and a guide to the future” . Kutipan berikutnya masih dalam buku yang sama adalah sebagai berikut:
“The view that the study of the past may help inform us about the future has a long history in scholarship.”
02. Apa itu Arkeologi Al-Qur’an?
ARKEOLOGI AL-QUR’AN (Quranic Archaeology) merupakan salah satu cabang arkeologi. Arkeologi Al-Qur’an menggunakan Al-Qur’an sebagai objek atau data arkeologi. Objek atau data arkeologi, seperti diketahui dapat berupa benda baik yang ada tulisannya maupun tidak bertulis. Al-Qur’an sebagai buku merupakan benda tertulis sehingga dapat menjadi data arkeologi (Akbar, 2012). Al-Qur’an merupakan wahyu yang kemudian ditulis atau menjadi teks dan selanjutnya dikompilasi menjadi buku (Al-A’zami, 2014). Penelitian terhadap teks termasuk untuk teks Kitab Suci dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan, antara lain dapat menggunakan hermeneutika (Akbar, 2005). Pada kesempatan ini, teks Al-Qur’an dikaji secara arkeologi.
Di beberapa negara telah sangat berkembang _Biblical Archaeology_ , yakni menggunakan kitab suci khususnya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai data arkeologi. Cikal-bakalnya mungkin dapat ditelusuri pada abad ke-17 Masehi. Salah satu pernyataan yang cukup terkenal adalah awal penciptaan manusia yang menurut perhitungan Archbishop Usser of Armagh (1581-1656) berdasarkan Bibel adalah tahun 4004 Sebelum Masehi (SM). Secara umum, kajian arkeologi di era modern yang berdasarkan atau menggunakan teks termasuk ke dalam Historical Archaeology (Hills, 2005: 138).
Biblical Archaeology telah berkembang dan diajarkan di beberapa negara dalam tingkat sarjana maupun pascasarjana. Sementara itu, Arkeologi Al-Qur’an belum diajarkan secara terstruktur di perguruan tinggi sehingga penelitian mengenai ini baik di universitas maupun pusat riset pun masih sangat terbatas (Akbar, 2012: 2). Padahal banyak kata dalam Al-Qur’an yang dapat diteliti secara arkeologi.
Beberapa struktur, bangunan, lokasi atau situs di Mekah, Madinah, dan sekitarnya yang tak terhitung banyaknya pada dasarnya dapat disebut peninggalan arkeologi.
Penyebutan nama tempat seperti Mesir, nama tanaman seperti Zaitun, dan berbagai penyebutan bentang alam seperti gunung cukup banyak disebut dalam Al-Qur’an. Literatur klasik atau awal-awal Hijriah karya ulama atau pemikir terdahulu menyimpan banyak petunjuk yang dapat ditindaklanjuti. Buku-buku yang terbit belakangan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW dan lokasinya juga dapat memudahkan penelurusan, misalnya karya Abu Khalil (2003) dan Ghani (2004; 2005). Peninggalan arkeologi terkait para nabi sebelum Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam (SAW) termasuk juga Nabi Ibrahim alaihis salam (AS) dan sebelumnya telah menanti untuk diteliti. Salah satu buku yang mengenai itu adalah Kisah Para Nabi Pra-Ibrahim: dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Pada buku karya Kemenag RI dan LIPI tersebut penulis juga turut terlibat memberikan buah pikiran (2012).
Sejalan dengan perkembangan arkeologi, maka menurut penulis, Arkeologi Al-Qur’an memiliki cakupan yang luas. Sekali lagi ditegaskan, Al-Qur’an merupakan data arkeologi yang memuat tulisan. Secara umum, penelitian arkeologi terkait Al-Qur’an dapat mencakup:
1. Penelitian material atau bahan dan proses pembuatan Al-Qur’an sebagai lembaran-lembaran bertulis atau buku.
2. Penelitian untuk menelusuri lebih lanjut berbagai kata yang disebut dalam Al-Qur’an seperti nama orang, benda, bangunan, lokasi, kejadian atau peristiwa, dan kondisi alam.
3. Penelitian mengenai kebudayaan sebagai hasil interaksi manusia sebagai pembaca Al-Qur’an dari masa ke masa dari berbagai wilayah di dunia.
Bersandar dari pemikiran di atas, berikut ini disajikan beberapa tulisan pendek yang dibuat oleh penulis mengenai contoh dan penerapan Arkeologi Al-Qur’an. Tulisan-tulisan ini antara lain mengenai data arkeologi, metode, hasil penelitian di berbagai masa dan wilayah. Tulisan-tulisan ini telah coba dikemas sedemikian rupa agar lebih mudah menyapa para pembaca.
(Akbar, 2020: 1-9).

Foto: Iran fornt page, Alquran Kuno dari abad ke 8 Masehi yang tersimpan di Iran (Subarkah, 2020, 02 Dec).
Refetensi:
Akbar, Ali.(2020). Arkeologi Al-Qur’an (Penggalian Pengetahuan Keagamaan). Cetakan 1, Jakarta, Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah 2020. ISBN: 978-623-92986-0-9.
Subarkah, Muhammad. (2020, 02 Dec). Al Quran Kuno Masuk Daftar Warisan Budaya Iran. Retrieved Juni 05, 2026, from: https://ihram.republika.co.id/berita/qkosaw385/al-quran-kuno-masuk-daftar-warisan-budaya-iran

