Sukapura Ngadaun Ngora

Yavadvipa Galunggung West Java, Indonesia

Bangunan Masa Kemerdekaan

Gedung Penggilingan Padi Perintis, Aset Perjuangan Ketanahan Pangan Nasional-2 Nilai Sejarah

Pangan sebagai kebutuhan primer manusia merupakan masalah penting dan tidak dapat diabaikan oleh siapapun juga. Kebutuhan pangan penduduk Indonesia terutama di Pulau Jawa adalah beras. Para penguasa di Indonesia sejak zaman kerajaan hingga masa modern memprioritaskan masalah pangan sebagai prioritas dalam kebijakan yang mereka laksanakan. Hal ini disebabkan beras selain dikonsumsi juga merupakan komoditas perdagangan dan bernilai tinggi. Kebutuhan dan ketersediaan pangan sering bertolakbelakang. Jika ketersediaan pangan melebihi kebutuhan pangan maka akan terjadi surplus. Sebaliknya, jika kebutuhan pangan melebihi ketersediaan pangan maka akan terjadi krisis pangan (Mufti, 2009:13).

Pada masa kolonial, sawah terbaik di Jawa sebagian ditanami tebu dan sebagian ditanami padi. Pemerintah kolonial yang terlalu fokus pada tanaman bernilai ekspor seperti tebu dan kopi menyebabkan pertanaman padi sering terlupakan. Pada 1921, pemerintah Hindia Belanda harus melakukan impor beras dan kedelai untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Hal ini dipicu kejadian bencana kelaparan beberapa tahun sebelumnya, di berbagai wilayah di Jawa seperti Karesidenen Cirebon maupun di Karesidenan Semarang (Grobogan dan Demak) (Hasselman 1914, Oudejans 1999 dalam Sarwani, 2023). Kebutuhan beras impor dalam jumlah tinggi terpaksa harus dilakukan antara 1926-1935. Namun, pada 1936, pasokan beras domestik sudah dapat memenuhi kebutuhan beras bagi rakyat sehingga kran impor ditutup. Pada tahun 1941, Indonesia menjadi eksportir beras. Kedaulatan pangan dicapai karena kebijakan yang tepat oleh pemerintah Hindia Belanda (Sarwani, 2023).

Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945 merupakan kemunduran dalam produksi beras Indonesia. Penurunan hasil mencapai 20 persen pada 1945 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1946/1947, terjadi kekeringan yang hebat sehingga membuat banyak masyarakat di berbagai daerah terutama di Jawa mengalami kekurangan pangan (Sarwani, 2023).

Berbeda dengan keadaan di Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk mengatasi krisis nasional pangan tersebut, masyarakat Tasikmalaya berjuang melakukan pengumpulan modal guna membuka jalan dalam mengadakan penyusunan usaha berskala nasional dengan membangun Gedung Pabrik Tenun Perintis dan Gedung Penggilingan beras (Padi) Perintis. Gerakan perjuangan masyarakat Tasikmalaya tersebut dikabarkan dalam Soera Merdeka tangggal 4 Januari 1947: Gedung Pabrik Tenun Perintis mulai dibangun sejak awal tahun 1947. Di gedung tersebut terdapat mesin tenun dengan hasil perhitungan + 1.000 meter kain per hari. Disamping, gedung tersebut dibangun juga sebuah penggilingan beras ‘Perintis’. Pembangunan kedua gedung tesebut tidak lepas dari hasil perjuangan masyarakat Tasikmalaya dengan melakukan pengumpulan modal guna membuka jalan dalam mengadakan penyusunan usaha berskala nasional. (Soera Merdeka, 4 Januari 1947, hlm.3).

Penggilingan padi merupakan proses pengolahan gabah yang telah dikeringkan (gabah kering giling) menjadi beras. Pemanfaatan alat dan mesin pertanian merupakan salah satu komponen penting dalam modernisasi pertanian. Penggunaan alsintan dalam praktik pertanian dapat  meningkatkan efisiensi usaha tani dan daya saing produk pertanian. Pemanfaatan mesin penggiling padi yang tepat dapat menghasilkan beras yang berkualitas (Sulaiman at al, 2018).

Adapun alat mesin penggilingan beras ‘Perintis’/penggilingan padi ‘Perintis’ Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, ditempatkan di dalam bangunan Gedung yang berada di belakang arah Selatan bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis tempat berlangsungnya Kongres Koperasi Indonesia Pertama tanggal 11-14 Juli 1947. Keberadaan Gedung Penggilingan Padi Perintis dilingkungan Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya merupakan saran dan prasarana dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan ditengah-tengah krisis pangan nasional. Oleh karena itu, Kongres Koperasi Indonesia Pertama dapat diselenggarakan di Tasikmalaya, selain karena faktor jaminan keamaan dari Divisi Siliwangi (Surtama, 2000: 5), juga jaminan ketersedian pangan yang cukup untuk kebutuhan pangan peserta selama kongres.

Dari uraian tersebut di atas, bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis merupakan wujud nyata gotong royong masyarakat Tasikmalaya dalam perjuangan ketahanan pangan bersekala nasional. Dari segi arsitektur bangunan Gedung merupakan salah satu bukti adanya pencampuran kebudayaan Belanda dengan Indonesia, dimana langgam arsitektur bangunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) tersebut berlanggam Indische Transisi (1890-1915).

Referensi:

  • Aini, Zahra Khurulia., Sulistiani., Fauziyah, Wina, Pebrianti, Gita., Tetep. (2024). Local Wisdom Values In The Architecture Of Gedung Sate As Cultural Heritage And Education For The Young Generation. Journal Civic and Social Studies. Vol. 8, No 2, Hal 172-183 https://doi.org/10.31980/journalcss.v8i2.2176
  • Edilius dan Sudarsono. (2010). Koperasi dalam teori dan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Falah, Miftahul. (2010) Sejarah Kota Tasikmalaya 1820-1942, Uga Tatar Sunda Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.
  • Hidayati, R., (2009). Cara Pemanfaatan Bangunan Kuno dan Bersejarah sehingga Layak menjadi Bangunan Cagar Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Handinoto. (1993). Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 19. Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
  • Handinoto. (2008). Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur 36 (1). Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
  • Handinoto. (2012). Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Handinoto., & Hartono, Samuel (2006). Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Studi Kasus Kompleks Bangunan Militer di Jawa pada Peralihan Abad 19 ke 20). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 34. Surabaya. Universitas Kristen Petra.
  • Iman, Nurul. (2012). Perkembangan Koperasi di Tasikmalaya: Alat Perjuangan Ekonomi Rakyat (1930-1947). Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
  • Jukilehto, J., (2002). A History of Architectural Conservation. Oxford: Butterworth-Heinemann.
  • Kamaralsyah., Djohan, Djabbarudin., Ibrahim., Ediwan., Lumunon, J.K., W.M. Marjono., Sudibyo, Suwardi, (1987). Panca Windu Gerakan Koperasi Indonesia 12 Juli 1947-12 Juli 1987. Jakarta: DEKOPIN.
  • Koleksi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tasikmalaya, 2024.
  • Koleksi PKKT.
  • Krier, R. (1996). Komposisi Arsitektur (1 ed.). Jakarta: Erlangga.
  • Mufti, Hikmah Rafika. (2009), Kebijakan Pangan Pada Masa Sebelum Orde Baru, FIB Universitas Indonesia
  • Pengurus Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tasikmalaya, (2003). Sejarah Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya : BAPPEDA.
  • Rudianto, Agus (2025) Sejarah Berdirinya Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) dan Sejarah Hari Koperasi 12 Juli 1947 di Tasikmalaya, Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya.
  • Samsudi., W, Kumoro, Agung., P.P, Susilowati, Dyah., & Dianingrum, Anita. (2020). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda Pada Bangunan Pendopo Puri Mangkunegaran Surakarta. Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 166-174. Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret
  • Sarwani, Muhrizal Dr. Ir, M.Sc. (2023). Analis Kebijakan Utama Kementan Dewan Pakar Himpunan Ilmu Tanah Indonesia dan Analis Kebijakan Utama Kementerian Pertanian. Swasembada beras dari masa ke masa, diakses pada 20 November 2025, dari https://money.kompas.com/read/2023/02/03/112247726/swasembada-beras-dari-masa-ke-masa?page=all
  • Setiawan, B., (2010). Preservasi, Konservasi dan Renovasi Kawasan Kota Tua Jakarta. Humaniora, 1(2) : 699-704.
  • Sulaiman, A.A., Herodian, S., Hendriadi, A. (2018). Revolusi mekanisasi pertanian Indonesia. Jakarta: IAARD Press.
  • Suparwoko, (2011). Sistem Informasi Konservasi Bangunan Bersejarah Berbasis Stakeholders di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian, 6 : 76-87.
  • Surtama, Momo. (2000). Sekitar Lahirnya Hari Koperasi Indonesia 12 Juli 1947 Dan Kehadiran Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Beserta Kegiatannya. Tasikmalaya : DEKOPINDA Kabupaten Tasikmalaya.
  • TACB Kota Tasikmalaya, 05-06-2025
  • TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025
  • TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025
  • Tamimi Nadhi, Fatimah Sitti Indung dan Hadi Arifin Akhmad, (2020), Tipologi Arsitektur Kolonial Di Indonesia. Jurnal p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982, Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) 2020.
  • Tui, S., Nurnajamuddin, M., Sufri, M., & Nirwana, A. (2017). Determinants of Profitability and Firm Value: Evidence from Indonesian Banks. IRA- International Journal of Management & Social Sciences, 7(1), 84–95. https://doi.org/10.21013/jmss.v7.n1.p10
  • Umar, S., Alihamsyah, T. Penggilingan padi. (2014). Dalam Mekanisasi Pertanian. IAARD Press.
  • Wijayanti, W., (2010). Prioritas Strategi Konservasi Kawasan Kauman Surakarta Dengan Pendekatan Konsep Revitalisasi. Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  • Yahya, D. Iip. (2025). Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya 1947. Tasikmalaya: Langgam Pustaka.

Wawancara
Nama : Agus Rudianto
Usia : 54 Tahun
Tanggal Wawancara : 19 November 2025
Pekerjaan/Profesi : Ketua Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya

Surat Kabar
Berita Indonesia, 29 Djoeli 1947. Tahoen Rep. II No. 348.
Soeara Merdeka, 4 Januari 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 5 Djoeli 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947. Tahoen III.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *