Sukapura Ngadaun Ngora

Yavadvipa Galunggung West Java, Indonesia

Bangunan Masa Kemerdekaan

Gedung Pabrik Tenun Perintis-1 Deskripsi

Gedung Pabrik Tenun Perintis, Tempat Kongres Koperasi Indonesia Pertama

Salah satu periode yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan pembangunan di Indonesia adalah periode kolonial. Terdapat berbagai macam bentuk peninggalan bersejarah berasal dari periode tersebut, salah satunya ialah langgam atau gaya arsitektur kolonial. Bangunan yang memiliki karakter arsitektur kolonial dapat dikategorikan sebagai bangunan yang penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi (Tamimi at al, 2020).

 Keberadaan bangunan kolonial di Indonesia memberikan kesan yang berbeda-beda bagi masyarakat. Keberagaman ini perlu diketahui agar di dalam upaya melestarikan bangunan kolonial, para pemilik dan pengelola bangunan dapat mempertimbangkan persepsi masyarakat sebagai pengguna bangunan. Suatu tempat akan memiliki karakter yang signifikan bila memiliki nilai tertentu (Emmelia dan Himasari, 2016).

Begitupun dengan keberadaan bangunan – bangunan dilingkungan Kantor Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) yang beralamat di Jalan Dr. Moch Hatta, RT. 003 RW 001, Kalangsari, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki bangunan – bangunan yang bersejarah tentang adanya gerakan perkoperasian di Indonesia, namun apakah bangunan – bangunan tersebut dibangun sekarang (baru) atau bangunan lama. Untuk mengidentifikasi bangunan baru atau lama, dapat dilakukan salah satunya dengan mengamati kondisi fisik (penampilan), materiil dan teknologi konstruksi (misalnya, beton pracetak atau batu bata), serta tanda-tanda riwayat seperti renovasi atau penambahan bangunan.

Langkah pertama dalam mengamati fisik bangunan adalah bagian facade bangunan. Façade/Fasad adalah bagian muka/depan bangunan. Umumnya menghadap arah jalan lingkungan. Wajah bangunan salah satu elemen bangunan yang penting, karena dari muka bangunan ini, identitas dari sebuah bangunan dapat diketahui dan dipelajari (Krier, 1996). Elemen fasad bangunan kemudian dijabarkan menjadi elemen atap, dinding, lantai, pintu, jendela, kolom, dan sun shading (Krier, 1996).

Adapun kajian bangunan yang dilakukan adalah kajian pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis yang berada disamping sebelah Barat Kantor PKKT dan di belakang Tugu Koperasi dengan koordinat 7°19’10″S – 108°13’20″E, dapat dilihat pada Gambar 4. Peta Satelit Google Eart Lokasi Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025). Dari segi muka bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis sekarang (existing) sudah tidak beratap, cat putih tembok bangunan sudah memudar seperti terlihat dalam Gambar 1. Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), namun masih banyak elmen lain yang dapat di identifikasi terhadap bangunan tersebut untuk memperoleh informasi apakah memiliki karakter arsitektur kolonial atau tidak.

Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang memadukan antara budaya Barat dan Timur. Arsitektur ini hadir melalui karya arsitek Belanda dan diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan. Arsitektur yang hadir pada awal masa setelah kemerdekaan sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur kolonial disamping itu juga adanya pengaruh dari keinginan para arsitek untuk berbeda dari arsitektur kolonial yang sudah ada (Tamimi at al, 2020).

Dari aspek fisik arsitektur bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT meliputi a). Tata Bangunan, b). Orientasi Bangunan, c). Denah Bangunan, d). Atap Bangunan, e). Sistem Struktur Bangunan (Samsudi at al, 2020) adalah sebagai berikut:

  1. Tata Bangunan

Tata bangunan merupakan hasil konfigurasi bangunan-bangunan yang saling dihubungkan satu dengan lainnya serta diorganisir sehingga membentuk pola-pola yang saling berkaitan (DK Cing,2007).

Di atas tanah seluas + 1.401,16 M2, yang terdiri dari Panjang 46,55 Meter dan Lebar 30,10 Meter, terdapat bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis yang memiliki beberapa ruangan bangunan. Secara garis besar tata ruang bangunan dibagi menjadi dua, pertama ruang bangunan utama, kedua ruang bangunan penyangga.

Ruang bangunan utama terdiri dari ruang 1. Pusat Kantor, 2. Ruang/Kamar Pimpinan. Ruang bangunan penyangga terdiri dari 1. Tenun, 2. Admin (Administrasi Ruang), 3. Ruang Toilet. Tata ruang utama berada di tengah-tengah bangunan yang diapit oleh ruang bangunan penyangga. Seluruh pintu ruang bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya terpusat menghadap ke ruang utama.

Selengkapnya dapat dilihat dalam Gambar 5. Denah Lantai Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), Gambar 6. Nomor Ruang Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025) dan Tabel 1, Daftar Ukuran Luas dan Fungsi Ruang Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

  • Orientasi Bangunan

Orientasi (orient) menunjukan arah bangunan menghadap /menuju ke suatu arah tertentu, misalnya bangunan menghadap arah Timur atau bangunan menghadap arah halaman yang luas (DK Cing,2007). Orientasi bagungan Gedung Pabrik Tenun Perintis memiliki pintu utama menghadap ke Utara menghadap Jalan Dr. Moch. Hatta, selain itu di sebelah arah Utara pun terdapat Gunung Sawal terlihat pada Gambar 20. Garis merah Orientasi Bagunan Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), sedangkan di arah Selatan, pintu belakang Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT terdapat Gedung Penggilingan Padi Perintis dan Sungai Ciloseh.

Sebelah Barat Gedung Pabrik Tenun Perintis berbatasan dengan bangunan Gardu Listrik. Sebelah Timur Gedung Pabrik Tenun Perintis berbatasan dengan Kantor Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya.

  • Denah Bangunan

Denah bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis memiliki bentuk denah tidak simetris, mengingat ruang bangunan disesuaikan dengan fungsi aktivitas pada ruang bangunan tersebut. Selain itu ruang-ruang bangunan yang ada pun sudah mengalami penambahan dengan menempel pada dinding bangunan lama (Wawancara Agus Rudianto, 19 November 2025).

Berdasarkan Denah Lantai bangunan sebagaimana pada Gambar 5. Denah Lantai Gedung Penggilingan Padi Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025) di atas, pintu utama masuk bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis berada di ruang tengah bangunan sebelah Utara. Ruang tengah (central room) memiliki ukuran lebar 12,69 m yang berhubungan langsung dengan halaman belakang sebelah Selatan bangunan.

Lebar ruang bangunan sebelah Barat dan sebelah Timur dari ruang tengah memiliki ukuran yang sama yaitu 16.93 m, sehingga Denah Lantai Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya ini memiliki Tipologi denah simetris.

Selanjutnya, untuk mengidentifikasi ruang bangunan baru maupun ruang bangunan lama pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT, dilakukan pengamatan terhadap dinding bangunan, lantai bangunan maupun matrial bangunan yang selanjutnya dituangkan dalam penomoran pada masing-masing ruang bangunan, sebagaimana pada Gambar 6. Nomor Ruang Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025) di atas. Setelah pengelompokan dengan cara penomoran, identifikasi fungsi ruangan pada tiap-tiap nomor ruang bangunan, kemudian dihitung luas tiap nomor ruangan.

Adapun Total Luas Bangunan Lama seluas + 904,11 M2, yang terdiri dari Nomor Ruang 2,3,4,5,6,7,8,9,10 dan 13. Total Luas Bangunan Baru      seluas + 405,17 M2, terdiri dari Nomor Ruang 1,11 & 12 dan 14. Total Luas Bangunan Baru dan Lama         seluas +1,291,27         M2 dengan catatan tidak dihitung luas ruang pada Nomor 13 karena telah terhitung dalam hitungan luas ruang nomor 11 dan 12.

Ruang bangunan Nomor 13 merupakan bangunan toilet lama yang terpisah dengan bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis dan ditempatkan paling belakang arah Selatan dari bangunan utama Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1, Daftar Ukuran Luas dan Fungsi Ruang Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

  • Atap Bangunan

Atap sebagai pelindung atau perisai yang menangkis radiasi panas dari matahari, pelindung pencurahan hujan dan hembusan angin. Atap terdiri dari tiga unsur utama, yaitu penutup atap, konstruksi penumpu penutup atap dan langit-langit (Marc Antoine L).

Mengingat bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya sudah tidak memiliki atap, sehingga tidak dapat dikaji dari teknik kontruksi atap maupun bahan matrial atap yang digunakan, namun dapat ditelusuri dari riwayat bangunan melalui dokumentasi foto bangunan, apakah memiliki bentuk atap limasan, pelana atau atap datar. Pengamatan pada Gambar 7. Gedung Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT), tempat Kongres I berlangsung. (Gb. PIP) (Kamaralsyah, dkk 1987: 10), tampak pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis tersebut memiliki atap limasan dengan sudut 30-450 (Nirwana at al, 2017). Sedangkan pada bagian atas jendela depan bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis terdapat lespang tembok pada sisi ujungnya terdapat umpakan sepeti umpakan dalam Gambar 8. Tugu Peringatan Kongres I yang terletak di halaman Gedung PKKT (Gb. PIP) (Kamaralsyah, dkk 1987:11).

Dari hasil pengamatan kedua gambar tersebut, terdapat dua informasi penting dalam mengidentifikasi fasad bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya. Pertama, bentuk atap bangunan limasan, Kedua nampak bentuk bangunan Stepped gable (gavel) yang merupakan Jenis gavel bangunan kolonial (Handinoto, 1996:167) pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis yang merupakan Gedung milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) dan pada struktur Tugu Peringatan Kongres I yang terletak di halaman Gedung PKKT sebagaimana terlihat dalam Gambar 9. Kompilasi Foto A, Foto B dan Foto C (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Dengan ditemukannya riwayat bentuk atap limasan pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT, maka dapat dibuat sketsa bangunan untuk merepresentasi pada Gedung Pabrik Tenun Perintis tersebut sebagaimana telihat pada Gambar 10. Sketsa Tampak Muka Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), Gambar 10-1. Bagian sisi Timur Gambar 10 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025), Gambar 10-2. Bagian Tengah Gambar 10 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025) dan Gambar 10-3. Bagian sisi Barat Gambar 10 (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025). Selain itu, ditemukan pula prediksi ukuran tinggi atap bangunan setinggi + 6,44 M.

  • Sistem Struktur Bangunan

Sistem struktur suatu keseluruhan yang komplek dan terorganisir yang merupakan hasil dari penggabungan unsur atau bagian yang membentuk suatu kesatuan yang kompleks. Struktur atau sistem struktur merupakan susunan fisik dari bermacam komponen yang terkait satu dengan yang lain dan dirancang serta dibangun untuk berfungsi sebagai kesatuan secara keseluruhan, dan mampu segala macam beban untuk menyalurkan ke dalam tanah. Sebagai contoh sistem struktur yang sederhana misalnya, adanya pondasi, kolom, balok dan lantai (Sidharta, 2003).

Eksterior Dinding bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya bagian muka bangunan di dilapisi/ditempel batu alam dengan pola random stone setinggi + 2,55 M dengan lebar 16.93 M untuk bagian dinding sebelah Barat dan dinding sebelah Timur bangunan, sedangkan bagian tengah bangunan dengan lebar 12.69 M terdapat lapisan/tempelan batu alam pola random stone setinggi + 0,70 M seluruh tembok di cat putih kecuali sebagian cat merah pada kolom tembok pintu depan bangunan.

Kolom tembok pintu depan memiliki ukuran Tinggi 3 M, Lebar 60 cm, bentuk kolom seperti peluru, sehingga lebar bagian atas lancip. diwarnai cat hitam setinggi 70 cm, cat merah bagian sisi kolom setinggi 2,15 cm dan bagian bentuk lancip cat putih setinggi + 15 cm, tampak dalam Gambar 13. Pintu Muka Depan diapit Kolom Tembok Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Jendela fasad bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya memiliki ukuran Lebar +1,11 M, Tinggi +1,20 M. di atas jendela terdapat dua bouvenlicht setinggi + 28 cm dan ventilasi tembok dinding setinggi + 10 cm, lebar muka + 60 cm, sedangkan bentuk ventilasi tembok dinding bagian dalam tampak kotak-kotak terlihat dalam Gambar 14. Jendela Tampak Muka dan Dalam Ruang Utama Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025). Design ventilasi tembok dinding ini pun terdapat di atas jendela dan pintu ruang utama bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya.

Pintu, Jendela ruang tengah (central room) menuju halaman bangunan sebelah Selatan Gedung Pabrik Tenun Perintis terdapat juga bentuk design ventilasi tembok pada Gambar 19. Tampak Pintu Jendela Dalam bagian Selatan Ruang Tengah Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Bouvenlicht/Lubang ventilasi, bouvenlicht adalah bukaan pada bagian wajah bangunan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dan kenyamanan termal (Handinoto, 1996). Pada bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis PKKT terdapat bouvenlicht pada sepanjang muka dinding sebelah Utara, samping Timur, samping Barat serta didalam ruangan bangunan yang tinggi bouvenlichtnya relatif sama, sedangkan lebar beragam. Tinggi + 1 M dan lebar antara 2-3 M terlihat dalam Gambar 16. Bouvenlicht Bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Sliding Door, Folding Gate (Pintu Lipat Besi) terdapat di bagian depan sisi Timur bangunan dengan cat hitam, sedangkan pada riwayat dokumen Gambar 7. Gedung Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT), tempat Kongres I berlangsung. (Gb. PIP) (Kamaralsyah, dkk 1987: 10) menggunakan cat putih. Adapun ukurannya memiliki Tinggi + 2,55 M, Lebar pintu + 2,20 M, Lebar rel pintu + 3,89 M terlihat pada Gambar 17. Sliding Door, Folding Gate (Pintu Lipat Besi) Tampak Muka samping Timur Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Didnding tembok bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya memiliki ketebalan dinding berkisar 30-50 cm. Dinding tembok bangunan terbuat dari campuran bata merah, pasir dan kapur, tidak terdapat besi beton. Disetiap dinding tembok ruang bangunan lama, pada bagian dalam dinding ruangan nampak berjajar kolom-kolom tembok yang menonjol yang berfungsi memperkuat dinding tembok serta sebagai penumpu balok kayu untuk rangka atap bangunan. Jarak tonjolan kolom dari dinding sekitar + 10-14 cm dengan lebar kolom rata-rata + 50 cm, sedangkan jarak antar kolom tembok beragam dari 2,5-4,0 m nampak pada Gambar 11. Kolom-kolom tembok Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Lantai bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis menggunakan Tegel berukuran + 20 cm warna hitam, akan tetapi karena terkena hujan dan panas warnanya pun menjadi keputihan telihat pada Gambar 12. Tegel ruang bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya (TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025).

Dari hasil kajian aspek fisik arsitektur bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya di atas, dapat di identifikasi bahwa Gedung Pabrik Tenun Perintis milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya merupakan Bangunan gaya arsitektur kolonial. Gaya arsitektur kolonial di Indonesia menurut Handinoto (2012) terbagi menjadi tiga yaitu; Indische Empire (abad 18-19), Arsitektur Transisi (1890-1915), dan arsitektur kolonial modern (1915-1940). Karakter Arsitektur Indische Empire Style (Abad 18-19) Menurut Handinoto (2006), arsitektur ini memiliki karakter konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu bata (baik kolom maupun tembok), pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai. Milano dalam Handinoto (2012) mengungkapkan ciri-ciri arsitektur Indische Empire antara lain:

  1. Denahnya berbentuk simetris penuh, ditengah terdapat “central room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (voor galerij dan achter galerij).
  2. Teras biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (Doric, Ionic, Corinthian).
  3. Dapur, kamar mandi/WC, gudang dan daerah service lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada dibagian belakang.
  4. Terkadang disamping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu.

Berdasarkan karakter dan ciri-ciri arsitektur tersebut di atas yang terdapat dalam kajian aspek fisik arsitektur bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya adalah sebagai berikut:

  1. Konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu bata (baik kolom maupun tembok), pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai
  2. Denahnya berbentuk topologi simetris, ditengah terdapat “central room”. Central room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (voor galerij dan achter galerij).
  3. Memiliki Teras depan dan belakang yang luas.  Terdapat barisan kolom dinding yang memperkokoh bangunan dan menghilangkan gaya Yunani, disesuaikan dengan fungsi bangunan.
  4. Kamar mandi/WC, gudang dan daerah service lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada dibagian belakang.
  5. Terkadang disamping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu.

Oleh karena itu, langgam bangunan Gedung Pabrik Tenun Perintis Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya berlanggam Indische Empire Style (Abad 18-19). Gaya Arsitektur Indische Empire style (Abad 18-19) Menurut Handinoto (2008), gaya arsitektur ini diperkenalkan oleh Herman Willen Daendels saat bertugas sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811). Indische Empire Style (gaya Imperial) merupakan gaya arsitektur yang berkembang pada pertengahan abad ke-18 sampai akhir abad ke-19. Gaya arsitektur ini dimulai pada daerah pinggiran kota Batavia (Jakarta), munculnya gaya tersebut akibat dari suatu kebudayaan di Belanda yang bercampur dengan kebudayaan Indonesia dan sedikit kebudayaan China.

Referensi:

  • Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto. (1990). Sejarah Nasional Indonesia VI, Cetakan Keenam. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Edilius dan Sudarsono. (2010). Koperasi dalam teori dan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Hidayati, R., 2009. Cara Pemanfaatan Bangunan Kuno dan Bersejarah sehingga Layak menjadi Bangunan Cagar Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Handinoto. 1993. Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 19. Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
  • Handinoto. 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur 36 (1). Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
  • Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Iman, Nurul. (2012). Perkembangan Koperasi di Tasikmalaya: Alat Perjuangan Ekonomi Rakyat (1930-1947). Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
  • Jukilehto, J., 2002. A History of Architectural Conservation. Oxford: Butterworth-Heinemann.
  • Kamaralsyah., Djohan, Djabbarudin., Ibrahim., Ediwan., Lumunon, J.K., W.M. Marjono., Sudibyo, Suwardi, (1987). Panca Windu Gerakan Koperasi Indonesia 12 Juli 1947-12 Juli 1987. Jakarta: DEKOPIN.
  • Koleksi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tasikmalaya, 2024.
  • Koleksi PKKT.
  • Krier, R. (1996). Komposisi Arsitektur (1 ed.). Jakarta: Erlangga.
  • Samsudi., W, Kumoro, Agung., P.P, Susilowati, Dyah., & Dianingrum, Anita.(2020). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda Pada Bangunan Pendopo Puri Mangkunegaran Surakarta. Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 166-174. Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret
  • Pengurus Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tasikmalaya, (2003). Sejarah Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya : BAPPEDA.
  • Setiawan, B., 2010. Preservasi, Konservasi dan Renovasi Kawasan Kota Tua Jakarta. Humaniora, 1(2) : 699-704.
  • Suparwoko, 2011. Sistem Informasi Konservasi Bangunan Bersejarah Berbasis Stakeholders di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian, 6 : 76-87.
  • Surtama, Momo. (2000). Sekitar Lahirnya Hari Koperasi Indonesia 12 Juli 1947 Dan Kehadiran Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Beserta Kegiatannya. Tasikmalaya : DEKOPINDA Kabupaten Tasikmalaya.
  • TACB Kota Tasikmalaya, 05-06-2025
  • TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025
  • TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025
  • Tamimi Nadhi, Fatimah Sitti Indung dan Hadi Arifin Akhmad, 2020, TIPOLOGI ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA. Jurnal p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982, Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) 2020.
  • Tui, S., Nurnajamuddin, M., Sufri, M., & Nirwana, A. (2017). Determinants of Profitability and Firm Value: Evidence from Indonesian Banks. IRA- International Journal of Management & Social Sciences, 7(1), 84–95. https://doi.org/10.21013/jmss.v7.n1.p10
  • Wijayanti, W., 2010. Prioritas Strategi Konservasi Kawasan Kauman Surakarta Dengan Pendekatan Konsep Revitalisasi. Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
  • Yahya, D. Iip. (2025). Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya 1947. Tasikmalaya: Langgam Pustaka.

Wawancara
Nama : Agus Rudianto
Usia : 54 Tahun
Tanggal Wawancara : 19 November 2025
Pekerjaan/Profesi : Ketua Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya