Gedung Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya merupakan bangunan bersejarah dengan melalui peristiwa terselenggaranya Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya. Bangunan milik Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, yang terletak di Jalan Ciamis No. 40 peserta kongres berjumlah sekitar 500 orang, yang merupakan utusan koperasi-koperasi di Jawa-Madura, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi (Kamaralsyah, dkk 1987: 7). Gedung Pabrik Tenun Perintis mulai dibangun sejak awal tahun 1947. Di Gedung tersebut terdapat mesin tenun dengan hasil perhitungan +/- 1.000 meter kain per hari. Pembangunan gedung tersebut tidak terlepas dari hasil perjuangan masyarakat Tasikmalaya dengan melakukan pengumpulan modal guna membuka jalan dalam mengadakan penyusunan usaha berskala nasional (Soeara Merdeka, 4 Januari 1947: 3).
Bangunan-bangunan di Indonesia memiliki beberapa gaya, terutama dipengaruhi oleh Gaya Art Deco seperti Gedung Merdeka dan beberapa gaya bangunan di Kota Bandung sekarang. Hal tersebut tidak bisa dipungkiri terdapat peran arsitektur kolonial, seperti C.P. Wolff Schoemaker. Arsitektur kolonial di Indonesia menurut Handinoto (2012) terbagi menjadi tiga yaitu; Indische Empire (abad 18-19), Arsitektur Transisi (1890-1915), dan arsitektur kolonial modern (1915-1940). Karakter Arsitektur Indische Empire Style (Abad 18-19) Menurut Handinoto (2008), arsitektur ini memiliki karakter konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu bata (baik kolom maupun tembok), pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kusen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai. Milano dalam Handinoto (2012) mengungkapkan ciri-ciri arsitektur Indische Empire antara lain:
- Denahnya berbentuk simetris penuh, ditengah terdapat “central room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Central room tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (voor galerij dan achter galerij).
- Teras biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (Doric, Ionic, Corinthian).
- Dapur, kamar mandi/WC, gudang dan daerah service lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada di bagian belakang.
- Terkadang di samping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu.
Demikian halnya gaya arsitektur kolonial nampak pada gedung Pabrik Tenun Perintis yang dijadikan tempat dilaksanakannya Kongres Koperasi Indonesia Pertama. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat mendapatkan kebebasan dalam menjalankan aktivitasnya, terlepasnya dari belenggu kolonialisme menjadi sebuah momentum bangkitnya perekonomian di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Tasikmalaya. Di tengah kondisi demikian terjadi peristiwa penting, yakni Kongres Koperasi pada tanggal 11-14 Juli 1947 di Kantor Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Gedung Pabrik Tenun. Pembangunan oleh pemerintah Tasikmalaya semakin marak demi mendongkrak aspek sosial ekonomi Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Perjuangan ini dalam mengembangkan koperasi guna menyediakan bahan baku dan pinjaman modal bagi masyarakat Tasikmalaya, hal ini menjadi babak baru dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Tasikmalaya sebagai kebangkitan dari keterpurukan penjajahan (Iman, 2012: 22).
Menurut artikel dengan judul Sekitar Kongres Koperasi hasil liputan Soeara Merdeka, 5 Juli 1947 tentang Kongres Koperasi Rakyat seluruh Jawa dan Madura yang akan dilangsungkan di Tasikmalaya, lebih lanjut dikabarkan bahwa berhubung dengan kegentingan dewasa ini, sedangkan Kongres yang akan menentukan persatuan Koperasi dipandang perlu sekali diadakan, maka acaranya tidak seperti bermula. Tetapi tidak mengurangi acara-acara yang penting maka banyaknya hari sidang dipersingkat. Faktor yang menjadikan Tasikmalaya sebagai tempat Kongres Koperasi adalah terbentuknya Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh A.H. Nasution pada tanggal 20 Mei 1946, hal ini menjadi pertimbangan keamanan dalam penyelenggaraan Kongres Koperasi di Tasikmalaya (Surtama, 2000: 5). Perkembangan koperasi di Indonesia di berbagai wilayah dapat mempengaruhi masyarakat Tasikmalaya, terutama kalangan pengusaha, pengrajin dan petani yang mengalami kesulitan dalam penyediaan bahan baku maupun modal (Iman, 2012: 26).
Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya direncanakan akan dilaksanakan dalam empat hari, 11-14 Juli 1947. Selain acara utama pertemuan para utusan dari Pusat-pusat Koperasi se-Jawa dan Madura, juga ada pameran produk koperasi dari seputar Tasikmalaya. Namun, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, lama acara dipersingkat hanya dalam dua malam dan dua hari (Yahya, 2025: 20). Utusan yang hadir pada saat kongres koperasi adalah utusan dari Jawa, Madura dan Sumatra, sedangkan utusan dari Sulawesi dan Kalimantan tidak dapat hadir disebabkan oleh lalu lintas antar pulau yang tidak aman (Surtama, 2000: 4). Hal tersebut disebabkan oleh blokade jalur perairan laut oleh Belanda sejak bulan November 1945 (Djoened dan Notosusanto, 1990: 173), sehingga menyebabkan terhambatnya jalur transportasi perairan menuju Pulau Jawa. Tidak semua utusan dari luar Pulau Jawa dapat hadir dalam kongres tersebut. Kongres Koperasi dimuat dalam surat kabar Soeara Merdeka, 12 Juli 1947 dalam artikel yang berjudul Koperasi Bukan Penahan Kapitalisme tapi hasil kecerdasan peradaban, menerangkan bahwa Kongres dikunjungi oleh 116 orang utusan dan peninjau Koperasi Rakyat seluruh Jawa dan Madura, kecuali Banten yang terlaksana di Gedung Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya. Para utusan yang hadir kebanyakan berasal dari utusan Jawa dan Madura, kecuali Banten, sehingga Kongres Koperasi ini dikenal juga sebagai Konferensi Koperasi Rakyat Seluruh Jawa-Madura (Berita Indonesia, 29 Djoeli 1947: 2).
Sebagai acara pertama dari Kongres Koperasi Indonesia Pertama, dimulailah malam perkenalan dengan tujuan saling mengenal satu sama lain di antara para utusan dari berbagai wilayah di Indonesia. Setelah acara perkenalan selesai pada pukul 20.00 maka acara dilanjutkan dengan acara pertemuan tertutup untuk merundingkan hal-hal yang akan diputuskan dalam acara kongres tersebut. Sebelum acara rapat dimulai, dinyanyikan lagu Indonesia Raya bersama dengan seluruh peserta kongres. Setelah dinyanyikan lagu tersebut, Niti Soemantri sebagai ketua rapat dalam kongres tersebut menyampaikan kata-kata hasrat dari para panitia penyelenggara kongres untuk mengadakan acara kongres tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari latar belakang para panitia penyelenggara yang berbeda satu sama lain, antara lain dari orang partai, jawatan, badan perdagangan hingga ahli kesehatan pun hadir menjadi panitia penyelenggara (Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947: 3).
Niti Soemantri menerangkan juga bahwa kesadaran masyarakat terhadap koperasi masih belum mempunyai pendirian dan tegas akan arti koperasi, sehingga banyak anggapan masyarakat mengenai keberadaan koperasi, diantaranya adalah anggapan masyarakat yang menilai koperasi hanya sebagai badan distribusi semata, bahkan tidak ketinggalan masih ada masyarakat yang menilai negatif keberadaan koperasi. Niti Soemantri mengharapkan koperasi dapat menjadi front ekonomi rakyat seluruhnya. Selain itu, koperasi belum membuktikan apa yang sebenarnya koperasi dan perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah kearah Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33. Sebagai penutup, ketua kongres menerangkan bahwa koperasi tidak dapat berdiri dan subur hidupnya jika Indonesia adalah negara yang kapitalis, negara jajahan, ataupun setengah jajahan. Oleh karena itu perjuangan dan keberadaan koperasi rakyat memiliki hubungan dengan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Iman, 2012: 56).
Selain itu, Niti Soemantri menyampaikan pesan dari Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dalam acara pembukaan Kongres Koperasi Indonesia pertama, bahwa koperasi bukanlah penahan kapitalisme maupun mempertahankan diri dari kapitalisme yang dapat menyengsarakan manusia, melainkan koperasi ekonomi yang semuanya hasil dari kecerdasan peradaban manusia. Oleh karena itu, diharapkan kehadiran koperasi menjadi suatu wadah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, bukan perkumpulan modal, melainkan perkumpulan orang yang menentukan koperasi itu berkembang. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Gubernur Jawa Barat yakni Sewaka. Ia menyatakan bahwa koperasi tidak dapat tumbuh dari atas, melainkan koperasi harus dihidupkan dari desa karena letak kekuatan-kekuatan negara berasal dari desa. Wakil Jawatan Perekonomian Pusat yang dijabat oleh R. S. Soeria Atmadja tidak dapat hadir namun diwakili oleh Notokusmo yang menerangkan bahwa koperasi zaman Hindia Belanda dan Jepang merupakan koperasi yang politik dan ekonominya bertentangan dengan pendirian asas-asas koperasi yang sebenarnya. Selain itu, diterangkan pula arti masyarakat desa dalam koperasi yang semuanya harus berdasarkan atas politik ekonomi pemerintah Indonesia, yaitu tegas dan konstruktif (Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947: 3).
Memasuki persidangan atau acara inti dari kongres koperasi dalam proses dan pengambilan keputusan terdapat sebuah diskursus yang sangat alot yang dipimpin oleh Niti Soemantri sebagai ketua kongres. Terlepas dari segala dinamika kongres tersebut tentu mempunyai tujuan yang akan dicapai secara bersama, kondisi sidang yang dipimpin oleh Niti Soemantri berjalan kondusif dalam menghasilkan keputusan yang memberikan peran terlaksananya kongres koperasi (Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947: 7-8).
Pokok pembahasan dalam diskursus kongres tersebut memuat beberapa point sebagai berikut (Surtama, 2000: 6) :
- Azas dan tujuan koperasi rakyat sesuai dengan UUD 1945 Pasal 33.
- Politik koperasi rakyat untuk memakmurkan negara.
- Modal dan usaha yang lebih diperlukan untuk koperasi rakyat terutama koperasi desa.
- Merubah dan menyempurnakan GAPKI (Gabungan Pusat Koperasi Indonesia) yang asalnya “Moeder Centrale”.
- Menetapkan hari koperasi.
Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya tahun 1947 tersebut menghasilkan 10 Keputusan, yaitu (Yahya, 2025: 41):
- Membentuk oraganisasi koperasi dengan tugas baru ialah yang disebut dengan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI).
- Azas Koperasi adalah Gotong Royong.
- Menetapkan peraturan dasar SOKRI.
- Kemakmuran rakyat harus dilaksanakan berdasarkan pasal 33 dengan Koperasi Rakyat, Koperasi Ekonomi sebagai alat pelakunya.
- Mendirikan Bank Koperasi Sentral.
- Ditetapkan konsepsi Koperasi Rakyat Desa yang meliputi tiga usaha: Kredit, Konsumsi, dan Produksi dengan pernyataan bahwa Koperasi Rakyat Desa harus dijadikan dasar susunan SOKRI.
- Memperluas Pendidikan Koperasi Rakyat dikalangan Masyarakat.
- Distribusi barang-barang penting harus diselenggarakan oleh Koperasi.
- Membuat presidium yang diketuai oleh Bapak Niti Soemantri dan diberi mandat untuk menyusun kepengurusan.
- Kongres menetapkan tanggal 12 Juli menjadi hari Koperasi dan tiap tahun wajib diperingati dan dianggap hari istimewa untuk kemekaran koperasi.
Tasikmalaya telah menjadi daerah yang memiliki arti penting dalam sejarah perkoperasian di Indonesia sebagai tempat didirikannya Pusat Koperasi Keresidenan Priangan sekaligus tempat diadakannya Kongres Koperasi Indonesia Pertama pada tanggal 11-14 Juli 1947 yang dihadiri oleh berbagai utusan tokoh koperasi di Indonesia. Sebagai tanda untuk memperingati kongres tersebut, maka pemerintah membangun Monumen Nasional Kongres Koperasi Indonesia Pertama yang dibangun di lahan kantor Pusat koperasi Kabupaten Tasikmalaya (PKKT) (Surtama, 2000: 4).
Terselenggaranya kongres koperasi merupakan sesuatu yang penting sebagai wadah pengembangan perekonomian Indonesia yang paling tepat berbasis kekeluargaan dan gotong royong untuk mencapai kesejahteraan bersama. Pasca kongres koperasi mulai bermunculan koperasi di berbagai wilayah Indonesia, terdapat 2500 koperasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia (Edilius dan Sudarsono, 2010: 44). Gedung Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya memuat arti penting sebagai memori kolektif bagi masyarakat Tasikmalaya.
Referensi:
- Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto. (1990). Sejarah Nasional Indonesia VI, Cetakan Keenam. Jakarta: Balai Pustaka.
- Edilius dan Sudarsono. (2010). Koperasi dalam teori dan praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
- Hidayati, R., 2009. Cara Pemanfaatan Bangunan Kuno dan Bersejarah sehingga Layak menjadi Bangunan Cagar Budaya. Jakarta: Universitas Indonesia.
- Handinoto. 1993. Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 19. Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
- Handinoto. 2008. Daendels dan Perkembangan Arsitektur di Hindia Belanda Abad 19. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur 36 (1). Surabaya: Universitas Kristen Petra press.
- Handinoto. 2012. Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada masa Kolonial. Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Iman, Nurul. (2012). Perkembangan Koperasi di Tasikmalaya: Alat Perjuangan Ekonomi Rakyat (1930-1947). Depok: Skripsi Universitas Indonesia.
- Jukilehto, J., 2002. A History of Architectural Conservation. Oxford: Butterworth-Heinemann.
- Kamaralsyah., Djohan, Djabbarudin., Ibrahim., Ediwan., Lumunon, J.K., W.M. Marjono., Sudibyo, Suwardi, (1987). Panca Windu Gerakan Koperasi Indonesia 12 Juli 1947-12 Juli 1987. Jakarta: DEKOPIN.
- Koleksi Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tasikmalaya, 2024.
- Koleksi PKKT.
- Krier, R. (1996). Komposisi Arsitektur (1 ed.). Jakarta: Erlangga.
- Samsudi., W, Kumoro, Agung., P.P, Susilowati, Dyah., & Dianingrum, Anita.(2020). Aspek-Aspek Arsitektur Kolonial Belanda Pada Bangunan Pendopo Puri Mangkunegaran Surakarta. Arsitektura: Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan, Vol. 18 (1) April 2020: 166-174. Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret
- Pengurus Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Tasikmalaya, (2003). Sejarah Kota Tasikmalaya. Tasikmalaya : BAPPEDA.
- Setiawan, B., 2010. Preservasi, Konservasi dan Renovasi Kawasan Kota Tua Jakarta. Humaniora, 1(2) : 699-704.
- Suparwoko, 2011. Sistem Informasi Konservasi Bangunan Bersejarah Berbasis Stakeholders di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian, 6 : 76-87.
- Surtama, Momo. (2000). Sekitar Lahirnya Hari Koperasi Indonesia 12 Juli 1947 Dan Kehadiran Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Beserta Kegiatannya. Tasikmalaya : DEKOPINDA Kabupaten Tasikmalaya.
- TACB Kota Tasikmalaya, 05-06-2025
- TACB Kota Tasikmalaya, 06-08-2025
- TACB Kota Tasikmalaya, 19-11-2025
- Tamimi Nadhi, Fatimah Sitti Indung dan Hadi Arifin Akhmad, 2020, TIPOLOGI ARSITEKTUR KOLONIAL DI INDONESIA. Jurnal p-ISSN : 2088-8201 e-ISSN : 2598-2982, Program Studi Magister Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) 2020.
- Tui, S., Nurnajamuddin, M., Sufri, M., & Nirwana, A. (2017). Determinants of Profitability and Firm Value: Evidence from Indonesian Banks. IRA- International Journal of Management & Social Sciences, 7(1), 84–95. https://doi.org/10.21013/jmss.v7.n1.p10
- Wijayanti, W., 2010. Prioritas Strategi Konservasi Kawasan Kauman Surakarta Dengan Pendekatan Konsep Revitalisasi. Tesis Magister Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Surakarta.
- Yahya, D. Iip. (2025). Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya 1947. Tasikmalaya: Langgam Pustaka.
Wawancara
Nama : Agus Rudianto
Usia : 54 Tahun
Tanggal Wawancara : 19 November 2025
Pekerjaan/Profesi : Ketua Pusat Koperasi Kabupaten Tasikmalaya
Surat Kabar
Berita Indonesia, 29 Djoeli 1947. Tahoen Rep. II No. 348.
Soeara Merdeka, 4 Januari 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 5 Djoeli 1947. Tahoen III.
Soeara Merdeka, 12 Djoeli 1947. Tahoen III.




