Lingga Yoni Indihiang, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung-2 Sejarah
Lingga dan Yoni, objek benda ini tidak hanya menjadi memori kolektif masyarakat lokal dengan sebutan batu sé-éng (Wawancara Suhendi, 16-12-2012), dapat dilihat pada dokumen Gambar 21. Foto dari kanan Bapak Suhendi (pemilik asal Situs Indihiang), Moch. Prabu Darmansyah dan Agus Wirabudiman, Foto Agus Wirabudiman 16-12-2012, Di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung (TACB Kota Tasikmalaya, 19-05-2026), tetapi juga tercatat secara resmi dalam dokumen kolonial Belanda yang ditulis oleh Dr. N. J. Krom (di bawah arahan/pemimpin Oudheidkundig Bureau) yang melaporkan tentang keberdaan Lingga-Yoni Indihiang dalam judul buku “Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R. D. M. Verbeek’s Oudheden van Java (Eerste Deel)”. ia menyatakan bahwa “Di sebuah bukit kecil, sekitar ± 1½ pal dari Indihiang dekat kampung Tjisoleh, terdapat sebuah lingga dan sebuah yoni” (Krom, 1915: 73), mungkin yang dimaksud Tjiloseh (nama sungai Ciloseh).


Keberadaan Situs Lingga-Yoni di Indihiang, Tasikmalaya, menghadirkan suatu persoalan historiografis yang menarik, terutama ketika ditempatkan dalam kerangka besar perkembangan kebudayaan Hindu di Tatar Sunda. Situs ini, yang secara morfologis menampilkan pasangan lingga dan yoni di atas struktur batu sederhana, pada dasarnya bukan sekadar artefak arkeologis, melainkan representasi material dari sistem kosmologi yang pernah hidup dan berfungsi dalam masyarakat pendukungnya (TPCB Kota Tasikmalaya, 23-04-2026).
Salah satu persoalan historiografis tersebut adalah terjadinya disorientasi nama Hindu, Hindia, Hindi, Indi, Indiech, Indus (Yunani: ‘indoi) yang merujuk pada nama etnis, geografis, atau budaya menjadi label agama Hindu terutama setelah diterbitkannya buku-buku seperti buku Hinduism (1877) oleh Sir Monier Monier-Williams. Sejak akhir abad ke-19, umat Hindu telah bereaksi terhadap istilah Hinduisme dengan berbagai cara. Sebagian menolaknya dan lebih memilih formulasi lokal. Sebagian lainnya lebih menyukai “agama Weda,” menggunakan istilah Weda tidak hanya untuk merujuk pada teks-teks keagamaan kuno yang dikenal sebagai Weda, tetapi juga pada kumpulan karya suci yang dinamis dalam berbagai bahasa dan cara hidup ortopraks (yang disetujui secara tradisional) (Basham et al, 2026).
Senada dengan yang disampaikan Purwanta bahwa perubahan makna dari nama etnis menjadi nama kepercayaan baru terjadi pada masa penjajahan Inggris di India. Pada abad ke-18, para sarjana Barat (orientalis) mulai meneliti adat, hukum, dan teks kuno India. Sir William Jones, misalnya, mendirikan Asiatic Society of Bengal (1784) dan menerjemahkan Manusmṛti (Hukum Manu). Teks ini kemudian dijadikan dasar hukum yang oleh pemerintah kolonial Inggris disebut “Hindu Law” untuk mengatur perkawinan, warisan, dan moralitas masyarakat India (Doniger & Smith, 1991 dalam Purwanta, 2025). Melalui proses kategorisasi kolonial inilah lahir istilah Hinduisme, suatu label yang diciptakan oleh kaum orientalis untuk menyebut penduduk India non-Muslim, non-Kristen, dan non-Buddha. Max Müller pada abad ke-19 memperkuat konstruksi ini dengan mengedit dan menerbitkan teks-teks Weda yang disebutnya sebagai “kitab suci Hindu” (Müller, 1891 dalam Purwanta, 2025). Sejak itu, “Hindu” tidak lagi sekadar penanda geografis, tetapi menjadi istilah religius dalam pengertian Barat.
Kata Hindu diserap oleh bahasa-bahasa Eropa dari istilah Arab al-Hind, dan mengacu kepada negeri bagi bangsa yang mendiami daerah sekitar Sungai Sindhu. Menurut Thapar (1992: 77) dalam teks-teks Arab dimana istilah tersebut awalnya tidak digunakan untuk agama (religion) maupun budaya. Istilah ini merujuk pada penduduk anak benua India, tanah di seberang sungai Sindhu atau Indus. Oleh karena itu, al-Hind adalah identitas geografis dan orang Hindu adalah semua orang yang tinggal di tanah ini. Mengenai kata Hindu (Hinduism) bukan untuk agama (religion), dalam Encyclopaedia Of Religion And Ethics Volume VI, menuliskan, definisi ini tidak memuaskan, karena mengabaikan fakta bahwa Hinduisme bukanlah agama dalam arti kata yang digunakan oleh para sarjana Eropa. Seorang Hindu menulis: ‘Hinduisme adalah apa yang dilakukan seorang Hindu’; dengan kata lain, ini adalah soal ritual dan ketaatan sosial (Guru Prosad Sen, Introd. to the Study of Hinduism, 1893, p.9 dalam Hastings at al, 1919: 699). Istilah-istilah saat ini, Hinduisme dan Brahmanisme, berasal dari Eropa, satu-satunya istilah umum Hindu untuk agama adalah dharma, yang didefinisikan sebagai tatanan yang mapan, kebiasaan, lembaga, adat istiadat, ketentuan; aturan, kewajiban; kebajikan, jasa moral, perbuatan baik; hak, keadilan, hukum (Macdonell, Skr. Eng. Dict., London. 1893, s.v dalam Hastings at al, 1919: 699).

Selanjutnya dikesempatan lain, Thapar (2002: 38) menegaskan bahwa dalam sumber-sumber Arab, al-Hind adalah tanah di luar Indus. Berbeda dengan Fatimi (1963) dalam artikelnya berjudul “Two Letter From the Maharaja to Khalifah: A Study in the Early History of Islam in the East” yang dikutip oleh Masudi, dimana dalam penelitiannya atas dua surat tersebut, Fatimi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kata “al-Shin” dan “al-Hind” dalam redaksi surat tersebut bukanlah Cina dan India, melainkan Indonesia (Fatimi dalam Masudi, 2020: 247). Selanjutnya Masudi pun meneliti buku berisi catatan para pelancong Arab-Persia yang datang ke Nusantara adalah buku berjudul Ajaib al-Hindi karya Buzurgh Ibn Syahriyar Ramahurmuz (w. 399 H/1009 M). Karya ini berisi semacam laporan perjalanan dari Arab ke sejumlah negara yang terhubung melalui rute utama Samudera Hindia. Buku ini merupakan catatan tertulis yang memotret aktivitas dan kondisi dunia maritim di Samudera Hindia yakni dari Afrika Timur, Nusantara, hingga Cina yang paling awal (Masudi, 2020: 242). Bahkan Ulum (2021) menegaskan, al-Hind dalam konsepsi para penulis Arab klasik bukanlah India yang sekarang tapi menunjuk pada wilayah Nusantara.

Nama negara “India” sendiri merupakan pemberian kolonial Inggris (1858-1947) untuk negeri Bharat, namun dalam konstitusinya digunakan dua-duanya India dan Bharat. Nama Bharat tersebut merupakan istilah Sansekerta yang ditemukan dalam kitab suci yang ditulis sekitar 2.000 tahun yang lalu. Istilah ini merujuk pada wilayah yang ambigu, Bharatavarsa, yang membentang melampaui perbatasan India saat ini dan mungkin mencakup wilayah yang sekarang menjadi Indonesia (Al Jazeera, 6/7/2023).
Pandey (2025) mengungkapkan bahwa peradaban India kuno, yang berakar pada budaya Weda, merupakan salah satu kontribusi paling mendalam dan abadi bagi sejarah manusia. Periode Weda meletakkan dasar bagi masyarakat India, membentuk struktur keagamaan, filosofis, dan sosialnya. Budaya Weda, sebagai landasan peradaban India kuno, memiliki makna historis, filosofis, dan budaya yang mendalam. Muncul sekitar tahun 1500 Sebelum Masehi (SM) selama migrasi awal Indo-Arya ke anak benua India, era ini menandai awal periode dinamis yang membentuk kerangka spiritual dan sosial-politik India. Asal usul budaya Weda berakar kuat dalam Weda, kumpulan teks suci yang disusun dalam bahasa Sanskerta. Teks-teks ini seperti Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharvaveda membentuk landasan filsafat India, berisi himne, ritual, dan penyelidikan filosofis yang membentuk tatanan moral dan spiritual masyarakat kuno.
Menurut Poerbatjoroko seorang cendekiawan Jawa terkenal, antara tujuh puluh hingga delapan puluh persen kata dalam bahasa Jawa kuno murni berasal dari bahasa Sanskerta atau berakar dari bahasa Sanskerta (Poerbatjoroko dalam Mookherji, 1963). Yang dimaksud dengan bahasa Jawa kuno murni adalah bahasa Jawa dan Sunda Kuno. Sebutan Jawa dalam Naskah Sunda Kuno Caritaparahyangan, “Tembey Sang Resi Guru ngajuga Taraju Djawa dipa, Taraju ma inya Galunggung, Djawa ma ti wetan”. Artinya: “Mula-mula Sang Resi Guru membangun pengukuh (bobot) pulau Jawa Dwipa, yaitu Galunggung, Jawa ada di sebelah Timurnya” (Atja, 1968). Arti kata “Taraju” menurut kamus Sangsekerta /jawa kuna Zoetmulder berarti “pair of scales, balance” (sepasang timbangan yang seimbang/sejajar).
Ngajuga/pengukuh atau Ibu Kota dari Jawa Dwipa (Yavadvipa) yaitu Galunggung sedangkan yang disebut Jawa ada di sebelah Timurnya, yang berarti wilayah Jawa sebelah Baratnya itu Taraju (Galunggung). Bahasa yang digunakannya memiliki 70-80% berakar dari bahasa Sangsekerta (Weda/Veda). Maka keberadaan lingga yoni, arca, candi yang banyak tersebar diseluruh wilayah Nusantara menjadi bukti pelengkap dari praktek budaya Weda yang berbahasa Sangsekerta, termasuk lingga yoni yang berada di bukit Kabuyutan Indihiang Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dari segi toponimi bukit Kabuyutan, menujukan tempat sakral/tempat ritual, tempat khusus yang harus dijaga kesuciannya. Menurut Darsa (2014), kabuyutan adalah Sebuah lokasi atau tempat yang disakralkan menurut aturan, seperti: keraton atau istana raja, kabataraan sebagai lembaga kaum rama, kawikwan sebagai lembaga golongan resi, mandala sebagai lembaga pendidikan, tempat peribadatan dan keagamaan, tempat pemakaman, dan sebagainya. Dalam Naskah Sunda Kuno Amanat Galunggung disebutkan, “Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah daripada raja putra yang tidak bisa mempertahankan Kabuyutan” (Danasasmita et al, 1987). Sedangkan nama Indihiang, secara morfologis terdiri dari frasa Indi dan Hiang. Fonetik (bunyi kata) Hiang mengacu pada Hyang yaitu Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib). Sedangkan Indi merujuk pada nama tempat, wilayah, etnis, geografis Indi/Hindi/Hindia/Hindu dalam bahasa Arab al-Hind bukan mengacu untuk label agama Hindu (Hinduism) dari India (Bharat).
Akar kata Kabuyutan adalah buyut, diawali dengan Ka(ke) dan dibubuhi akhiran (an). Dari segi istilah Ka-Buyutan dan fonetik (buyutan) memiliki persamaan baik fonetik maupun fungsi “Buyuutan” dan Buyuutakum dalam al-Qur’an Artinya: “Telah Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya (Harun), “Ambillah oleh kamu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu, jadikanlah rumah-rumahmu itu kiblat (tempat ibadah), dan tegakkanlah salat. Gembirakanlah orang-orang mukmin.” (Quran Kemenag, 2022. Yunus:87).
Dari segi teologis, ajaran Weda (Veda) pun mengajarkan monoteisme seperti dalam ajaran Islam. Sebagaimana yang diungkapkan Surpi (2020), bahwa dari perspektif Vedic Hermeneutic ditemukan secara tegas, bahwa konsep ketuhanan Ṛgveda secara tegas menyatakan monoteisme, namun berbeda dengan konsep Monoteisme Islam dan Kristen. Supremasi Tuhan Tertinggi sangat sulit untuk dijelaskan dan diberikan pada satu nama tertentu. Konsep ketuhanan Ṛgveda menegaskan Yang Esa, Yang Tertinggi sebagai sesuatu yang tidak mampu dilukiskan dengan nama tertentu. Tak ada nama yang mampu mewakili-Nya sebab semua nama menyatu dalam keesaan viśvam ekam. Hal ini menjadikan konsep Monoteisme tidak menimbulkan wajah permusuhan karena nama Tuhan yang berbeda. Surpi menegaskan, menganalisis konsep ketuhanan Veda dalam perspektif Vedic Hermeneutic merupakan kegiatan akademis yang menantang sekaligus mampu menyajikan perspektif yang berbeda dengan pola Barat.
Lingga yoni pada Situs Indihiang diketahui bahwa situs tersebut berasal dari sekitar abad 7 M (Widyastuti, 2017: 23), semasa dengan proses penyampaian ajaran al-Quran di Negeri Ummul Qura (Makkah) dengan bahasa Arab (Quran Kemenag, 2022. Asy-Syura: 7) oleh Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 20 April tahun 571 M, setelah Nabi Muhamad berusia 40 tahun (sekitar tahun 612 M / awal Abad 7 M), ia menerima wahyu untuk pertama kalinya yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5 (Syahputra, 2018).
Lalu bagaimana menurut al-Qur’an terhadap ajaran Weda berbahasa Sansekerta yang secara ekplisit tidak terdapat didalam al-Qur’an baik nama Rasul, nama Kitab Sucinya maupun Kiblatnya, ketiadaan data bukanlah bukti ketiadaan, karena sesungguhnya telah disampaikan didalam al-Quran,
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka, …” (Quran Kemenag, 2022. Ibrahim, 4).
Artinya: “Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu, …” (Quran Kemenag, 2022. An-Nisa: 164).
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad). Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak ada seorang rasul pun membawa suatu mukjizat, kecuali seizin Allah. ….” (Quran Kemenag, 2022. Ghafir: 78).
Artinya: “.. . Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. …” (Quran Kemenag, 2022 Al-Maidah: 48).
Artinya: “Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. …” (Quran Kemenag, 2022. Al-Baqarah: 148).
Artinya: “…, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (Quran Kemenag, 2022. Al-Baqarah: 136).
Nabi Muhammad SAW sendiri dalam al-Quran, Artinya: “Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad) hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan memiliki segala sesuatu.. …” (Quran Kemenag, 2022. An-Naml: 91). Walaupun demikian nilai esensi dari ajarannya merupakan rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam (Quran Kemenag, 2022.al-Anbiya,107). Bukti tinggalan Arkeologinya adalah bangunan berbentuk kubus Ka’bah disebut Baitullah (Rumah Allah) sebagai Kiblatnya. Sedangkan lingga yoni, arca yang ditempatkan di Kabuyutan maupun Candi merupakan “Kiblat” dalam ajaran Weda (Veda) yang berbahasa Sangsekerta.
Artefak lingga-yoni adalah tanda (sign) budaya ditemukan sebagai bagian dari beragam jejak peradaban masyarakat Jawa dan Bali. Artefak tersebut diciptakan dan bermakna bagi masyarakat Jawa dan Bali lampau tentu juga bermakna bagi masyarakat Jawa dan Bali sekarang. Kebermaknaannya bergantung sudut pandang yang digunakan si pemakna (reseptor). Sebagai bagian ranah critical ada beragam sudut pandang yang dapat dipilih untuk memaknai artefak lingga yoni, antara lain historis, ikonografis, arkeologis, simbologis, mitologis, dan positivistik. Dari sudut pandang positivistik, artefak lingga yoni dapat dimaknai dari konsep dasar hukum probabilitas dan kausalitas sistemik (Sunoto, 2017).
Seimpulan
Dari penjelasan deskripsi Lingga Yoni Indihiang sebelumnya sebagaimana pada Link: https://sukapura.or.id/2026/06/04/lingga-yoni-indihiang-di-tempat-suci-kabuyutan-galunggung-1-deskripsi/ terungkap makna benda Lingga dan Yoni sebagai simbol (kode) Ilmu Pengetahuan untuk mengenal jati diri manusia. Oleh karena itu benda Lingga dan Yoni Indihiang memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, diantaranya sebagai berikut:
- Sejarah: Keberadaan Lingga Yoni Indihiang di Tempat Suci Kabuyutan Galunggung, menjadi bukti penghubung adanya peradaban dari masa lalu sekitar Abad 7 Masehi sampai masa sekarang. Berdasarkan kajian sejarah Lingga Yoni Indihiang yang diletakan di salah satu Kabuyutan Galunggung, membuka fakta historis bahwa nama Indihiang (Indi-Hyang), Hindu atau al-Hind bukan mengacu pada frasa kata untuk “Agama Hindu” sekarang, mengingat istilah “Agama Hindu (Hinduiesm)” baru muncul sejak Abad 18 Masehi, sedangkan Lingga Yoni Indihiang telah hadir sekitar Abad 7 Masehi. Menilai sesuatu yang tidak pada tempatnya atau pada masanya merupakan kekeliruan serius atau kesalahan interpretasi (anakronisme).
- Ilmu Pengetahuan: Lingga Yoni Indihiang memberikan informasi adanya ilmu pengetahuan masa lalu tentang teknik pengolahan dan pemahatan batu, simbolisme, arsitektur serta alat teknologi (Sains) tinggi guna membentuk batu, juga merupakan pola interaksi budaya antar wilayah pada masa lampau.
- Agama: Lingga Yoni Indihiang, adalah wujud implementasi dari penggabungan pengetahuan spiritual Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, Ritual dan ilmu pengetahuan (Sains). Keberadaan Lingga Yoni Indihiang pun dapat menumbuhkan toleransi beragama, mengingat Lingga Yoni Indihiang berasal dari masa Abad 7 Masehi jauh sebelum adanya 6 Agama dan Kepercayaan yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia. Dan hingga kini masih dihormati serta dijaga kesuciannya oleh masyarakat sekitar.
- Pendidikan: Keberadaan Lingga Yoni Indihiang dapat dijadikan sumber pembelajaran langsung untuk memahami sejarah, kepercayaan, dan perkembangan kebudayaan lokal maupun nasional, sebagai tanda (sign) untuk mengingatkan, mendidik manusia agar belajar menghormati pekerjaan orang lain, belajar memahami buah dari pekerjaan orang lain, belajar menghargai sesuatu yang tidak kita kerjakan sendiri.
- Kebudayaan: Lingga Yoni Indihiang merupakan warisan budaya hidup yang masih diakui dan dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat Kota Tasikmalaya khususnya, serta tidak hanya menjadi artefak masa lalu, ia tetap hidup dalam praktik budaya masyarakat komperorer, terutama melalui ritual-ritual seperti “Nyapu Kabuyutan”, dan menjadi identitas budaya masyarakat Kota Tasikmalaya.
Referensi:
- Al Jazeera, (2023, 06 September). India or Bharat: What’s behind the dispute over the country’s name?. Retrieved April 27, 2026, from https://www.aljazeera.com/news/2023/9/6/india-or-bharat-whats-behind-the-dispute-over-the-countrys-name
- Arniati, Komang, Ayu, Ida (2016). Hakekat Manusia Persfektif Siwatattwa. ISSN: 0852-7776, Oct-2016. UNHI Press.
- Atja. (1968). Carita Parahyangan: Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ke-16 Masehi. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusa Larang.
- Basham, Arthur Llewellyn, Smith, Brian K., Gold, Ann G., Buitenen, J.A.B. van, Dimock, Edward C., Narayanan, Vasudha, Doniger, Wendy. (2026, 27 February). “Hinduism”. Encyclopedia Britannica, Retrieved April 27, 2026, from https://www.britannica.com/topic/Hinduism
- Danasasmita, Saleh., Ayatrohaedi., Wartini, Tien., & Darsa, Ahmad, Undang. (1987). Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632). Transkripsi dan Terjemahan. Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi), Direktirat Jendral Kabudayaan Dep Pendidikan Dan Kebudayaan Bandung Tahun 1987.
- Darsa, Ahmad. Undang (2014). Konsepsi Dan Eksistensi Gunung Berdasarkan Tradisi Naskah Sunda (Sebuah Perspektif Filologi). UADarsa-FIBU-1432014
- Hastings, James., Selbie, A. John, & Gray, H. Louis (1919). Encyclopaedia Of Religion and Ethics Volume VI. Cetakan 2, 1919. Printed In Great Britain By Morrison and Gibe Limited. Retrieved April 27, 2026, from https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.462323/mode/2up
- Hindarto, Imam (2019). Analisis Struktural Pada Mukhalingga Di Nanga Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Naditira Widya, 13(1) April 2019. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
- Krishna, Wika, Bagus, Ida. (2022). Darsana. Cetakan Pertama, Juni 2022. Penerbit: Mpu Kuturan Press.
- Krom, N. J. (1915). Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië 1914: Inventaris der Hindoe-oudheden op den grondslag van Dr. R. D. M. Verbeek’s Oudheden van Java (Eerste Deel). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 1915, p.73.
- Manaf, Abdul, Mujahid. (1996). Sejarah Agama-Agama. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
- Masudi, Idris (2020). Islam Dibawa Masuk oleh Orang Nusantara: Dari Data Terserak Buzurgh Al-Ramahurmuzi, ‘Ajaibul Hind: Kisah-Kisah Ajaib di Daratan dan Lautan Hindi. lslam Nusantara, Journal for Study of Islamic History and Culture, I (I), July 2020. Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta
- Mookherji, Bimal, Sudhansu (1963). Indo-Indonesian Relation. The Modern Review by Ramananda Chatterjee, CXIII(1 To 6)-101, January To June 1963. Calcuta, India. Retrieved April 27, 2026, from https://archive.org/details/dli.bengal.10689.16872
- Munandar, A. A. (2010). Tinjauan Napas Keagamaan Hindu-Budha dalam Beberapa Naskah Sunda Kuno (Abad ke-14-16). Jurnal Manuskrip Nusantara, 1(1) 2010. Perpustakaan Nasional. Retrieved April 27, 2026, from: https://ejournal.perpusnas.go.id/jm/article/view/00100120102
- P.J. Zoetmulder, S.O. Robson. (1994). Kamus jawa kuno – Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, 601, 1494. https://online.fliphtml5.com/cwzns/cbot/#google_vignette
- Pandey, Kumar, Sushil (2025). The Evolution of Ancient Indian Civilization A Study of Vedic Culture and Its Global Impact. International Journal of Advanced Research in Humanities and Law (IJREL), 2(1): 40-46, 2025
- Portal Resmi DIY, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, (2026). Yoni Nomor Inventaris E.27. Retrieved April 27, 2026, from https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/36/yoni
- Portal Resmi Kemendikbud, Museum Negeri Provinsi Jawa Barat Sri Baduga. Yoni Nomor Iinventarisasi: 04.896. Retrieved April 27, 2026, from https://museum.kemenbud.go.id/koleksi/profile/yoni_53457
- Purwanta, Hieronymus. (2025, 10 Oktober). Mengulik Salah Kaprah Penggunaan Istilah ‘Hindu’. Retrieved April 27, 2026, from https://sejarah.fkip.uns.ac.id/2025/10/10/mengulik-salah-kaprah-penggunaan-istilah-hindu/
- Rema, Nyoam dan Sunarya, Nyoman. (2015). Lingga Berhias Padma Astadala, Forum Arkeologi, 28(2), Agustus 2015 (79-88). Balai Arkeologi Denpasar.
- Ritonga, Tohir, M. (2021). Melihat Allah Ta’ala. Al-Kaffah, 9(2) Juli-Desember 2021: 289-298. Retrieved April 27, 2026, from https://jurnalalkaffah.or.id/index.php/alkaffah/article/view/22/17
- Sinaga, Edison & Subiyanto, Edi, Ahmad (2023). Penetapan Cagar Budaya Ditinjau Dari Perspektif Kepastian Hukum Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umum. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN) Vol. 4 No 4, 2023 |pp: 5040-5045.
- Suhardi, Untung. (2019). Eksistensi Lingga Sebagai Media Pemujaan Hindu Di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan – Jawa Tengah (Sebuah Tinjauan Perspektif Sejarah). Jurnal Agama Hindu, 24(1) Maret 2019, 40-49. Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta.
- Sunoto, S. (2017). Lingga Yoni Jejak Peradaban Masyarakat (Jawa, Bali) dari Perspektif Positivistik. Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya, 45(2), Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Kegeri Malang.
- Surpi, Kadek, Ni (2020). Konsep Monoteisme Dalam Ṛgveda (Kajian Konsep Ketuhanan Hindu Perspektif Vedic Hermeneutic). VIDYA DARŚAN, Jurnal Filsafat Hindu, 2(1) November 2020. Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
- Suryanto, Agung dan Permana, Sukma Angga. (2025). Lingga Bergema: Reinterpretasi simbolisme lingga. Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 23(1), pp. 44-52, 26 April 2025, Universitas Negeri Yogyakarta
- Syahputra, El-Adzim, Afrizal (2018). Sufisme Dalam Hindu Dan Islam. Spiritualis, 4(1) 14-27, Maret 2018. STIT Sunan Giri Trenggalek
- Thapar, Romila. (1992). “Society and Historical Consciouness: The Itihasa-Purana Tradition.” In: Interpreting Early India. Delhi; New York: Oxford University Press. Retrieved April 27, 2026, from https://dokumen.pub/qdownload/interpreting-early-india-9780195633429-0195633423.html
- Thapar, Romila. (2002). The Penguin History of Early India From The Origins To AD 1300. Penguin Group, Penguin Press 2002. Retrieved April 27, 2026, from https://archive-org.translate.goog/details/romila-thapar-history-of-early-india-from-the-origins-to-ad-1300?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
- Ulum, Babul, Muhammad (2021, 24 Januari). Sri Baduga Maharaja, Sahabat Nabi Muhammad dari Nusantara?. Retrieved April 27, 2026, from https://khazanah.republika.co.id/berita/qnf4l9385/sri-baduga-maharaja-sahabat-nabi-muhammad-dari-nusantara
- Umar, Nasarudin. (2019, 11 Januari). Konsep Keesaan Tuhan Perspektif Agama Hindu. Dialog Jumat Koran Kompas. Retrieved April 27, 2026, from https://uinjkt.ac.id/id/konsep-keesaan-tuhan-perspektif-agama-hindu
- Wibowo, Ari Bayu. (2016). Pemaknaan Lingga-Yoni Dalam Masyarakat Jawa-Hindu Di Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur: Studi Etnoarkeologi. E-Jurnal Humanis, 14.1 Januari 2016: 9-16, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana.
- Widyastuti, Endang (2005). Ikonografi Masa Hindu-Budha di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
- Widyastuti, Endang (2012). Bangunan Suci di Situs Indihiang, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam H. O. Untoro, Arkeologi Ruang: Lintas Waktu Sejak Prasejarah Hingga Kolonial di Situs-situs Jawa Barat dan Lampung (hal. 31 – 42). Bandung: Alqaprint.
- Widyastuti, Endang (2013). Bangunan Suci dan Lingkungannya di Situs Indihiang Kota Tasikmalaya. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.
- Widyastuti, Endang (2017). Arsitektur Bangunan Suci Di Situs Indihiang KotaTasikmalaya. Purbawidya (Jurnal penelitian dan pengembangan arkeologi), 6(1), 23. Bandung: Balai Arkeologi Jawa Barat.
- Al-Qur’an dan Terjemah Kementrian Agama RI (2022):
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Baqarah ayat 136. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=136&to=286
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Baqarah ayat 148. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/2?from=148&to=286
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah An-Nisa ayat 164. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/4?from=164&to=164
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Al-Maidah ayat 48. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/5?from=48&to=120
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Yunus ayat 87. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/10?from=87&to=109
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Ibrahim ayat 4. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/14?from=4&to=52
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Anbiya ayat 107. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/21?from=107&to=112
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah An-Naml ayat 91. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/27?from=91&to=93
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Shad ayat 72. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/38?from=72&to=88
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Ghafir ayat 78. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/40?from=78&to=85
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Asy-Syura ayat 7. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/42?from=7&to=53
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah al-Hujurat ayat 13. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/49?from=13&to=13
- Quran Kemenag, (2022). Al-Quran dan Tejemah Surah Qaf ayat 16. Retrieved April 27, 2026, from: https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/50?from=16&to=45
Wawancara
Nama : Suhendi
Usia : 69 Tahun, Wafat: 07 Maret 2022 dalam Usia 79 Tahun.
Tanggal Wawancara : 16 Desember 2012
Pekerjaan/Profesi : Purnawirawan ABRI/POLRI (Pemilik asal Situs Indihiang).

